Sehari WBP Lapas Kelas 2B Nunukan Produksi Tempe 150 Pack untuk Dijual di Pasar

benuanta.co.id, NUNUKAN – Selain ternak ayam potong, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas 2B Nunukan juga memproduksi tempe dari kedelai. Dalam sehari warga binaan lapas bisa membuat tempe hingga 150 pack.

Kalapas Nunukan, I Wayan menyampaikan dalam pembinaan merupakan hal yang wajib dilakukan Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia dalam upaya menciptakan narapidana sebagai Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan produktif serta mempunyai kreatifitas yang baik.

“Produksi tempe merupakan sesuatu yang sangat bermanfaat. Sejauh ini, kita mampu memproduksi sampai dengan 150 pack Tempe/hari nya. 1 pcs tempe dibandrol Rp 2.500,” kata I Wayan, Ahad (27/11/2022).

Baca Juga :  Desa Mansalong Butuh Truk Pengangkut Sampah

Lanjut dia, pihaknya selalu menerima WBP yang ingin dan ada niat untuk bekerja dan menambah pengetahuan di bidang pembuatan tempe untuk bekal mereka jika kembali ke masyarakat.

Hingga saat ini Lapas kelas 2B Nunukan sudah mendistribusikan tempe lapas nunukan ke pedagang pedagang yang ada di Kabupaten Nunukan. Langkah ini dinilai mendukung penuh program ketahanan pangan di Nunukan.

Untuk keuntungan penjualan nantinya akan diputar kembali untuk modal usaha dan juga sebagai penyumbang PNBP (Pendapatan Negara Bukan Pajak) dalam Kegiatan Kerja Lapas.

Baca Juga :  Tega, Si Paman Jadikan Ponakannya Budak Nafsu Bejatnya, Melati Hamil Muda

Selain itu, Akbar WBP Lapas kelas 2B Nunukan, mengatakan keterbatasan dibalik penjara, tak membuatnya melepas keahliannya. Ketika para narapidana dan tahanan lainnya tengah sibuk mencuci ataupun menjemur pakaian, malah dia tengah berada di tempat pembuatan tempe.

Akbar tidak sendirian namun ditemani WBP lainnya yakni Bakri. Kedua tangan mereka tampak begitu lihai mengaduk-aduk kedelai dengan campuran ragi. Anggapan masyarakat umumnya kerap memandang mantan narapidana dengan sebelah mata karena eks pelaku kriminalitas.

Baca Juga :  Sekolah di Sembakung Terendam Banjir, Pelajar Diliburkan  

Sehingga, ia pun berharap hal yang dilakukan selama di Lapas bisa dijadikan bekal setelah masa bebasnya tiba. Kendati demikian, proses produksi juga tak berlangsung mulus.

Setelah belajar dari pegawai dan warga binaan lainnya yang sudah paham terkait produksi tempe tersebut, dua sampai tiga minggu dengan di dampingi oleh petugas mereka pun sudah bisa sepenuhnya memproduksi sendiri. ”Hingga saat ini, produksi tempe itu terus berlanjut,” tutupnya.(*)

Reporter: Darmawan

Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *