BPBD Tarakan Ajak Kolaborasi 5 Unsur Stakeholder Upaya Mitigasi Bencana Alam

benuanta.co.id, TARAKAN – Mitigasi dini bencana alam di Bumi Paguntaka terus diperkuat oleh tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan Yonsep mengatakan dalam waktu dekat akan mengadakan forum bersama 5 unsur stakeholder.

“Pertama dalam waktu dekat kita akan bentuk forum bersama 5 unsur stakeholder terkait yang terlibat dalam hal mitigasi bencana alam, baik masyarakat, pemerintah, TNI Polri, pengusaha dan media dengan SK-nya dari Pak Walikota,” ungkapnya, Rabu (23/11/2022).

Lebih lanjut, kata Yonsep tentang bagaimana cara mengurangi resiko bencana alam seperti gempa bumi di Cianjur beberapa waktu lalu.

“Yaitu berdasarkan konstruksi bangunannya. Kalau di Tarakan resikonya seluruh pesisir pantai Tarakan didiamin oleh masyarakat. Karena ada potensi Gempa dan dimungkinkan Tsunami hal ini harus kita sampaikan kepada masyarakat,” ucapnya.

Tak hanya itu, kata Yonsep menilai pembangunan rumah warga di Tarakan pada masa mendatang sepatutnya harus melalui rekomendasi dari tim perizinan.

Baca Juga :  Pelaku Tabrak Lari di Selumit Diamankan, Ternyata Masih di Bawah Umur

“Baik tim secara tata ruang supaya setiap pembangunan baru harus berdasarkan kajian boleh atau tidak. Termasuk kebencanaan ini masuk dalam kajian terhadap pemberian izin tersebut. Sebab bencana itu tidak bisa kita hindari dan bencana bisa jadi teman kita, jadi bencana itu urusan kita bersama,” ujarnya.

Kemudian, jika terjadi Gempa Bumi atau Tsunami kata Yonsep BPBD Tarakan telah menentukan beberapa titik jalur evakuasi yang dapat segera ditanggapi masyarakat.

“Yakni daerah Amal dan sekitarnya titik pengungsian di Universitas Borneo
Tarakan (UBT), kalau masyarakat yang tinggal di kawasan tengah kota dapat mengungsi di kawasan Gunung Selatan, untuk kawasan Utara dapat mengungsi di Bukit Tengkorak yang terletak di Kelurahan Juata Laut Tarakan, kalau daerah Mamburungan dan sekitarnya dapat mengungsi di daerah Mamburungan Timur. Titik evakuasi ini berdasarkan hasil kajian BPBD pada 2016 lalu,” bebernya.

Dalam hal ini, Yonsep meminta agar masyarakat tidak khawatir. Sebab BPBD telah melakukan simulasi kebencanaan.

Baca Juga :  Awas! Merokok di Jalan Bisa Kena Denda Loh

“Meskipun simulasi bencana langsung ke masyarakat belum dilakukan karena pihaknya memiliki ruang yang terbatas sebab harus mengumpulkan banyak massa. Tapi lewat media, kami bisa memberikan edukasi ke masyarakat,” pungkasnya.

Sementara itu, Forecaster BMKG Tarakan Raa’ina Farah Sumartono menambahkan bahwa gempa yang terjadi di wilayah Provinsi Kalimantan Utara disebabkan oleh adanya sesar lokal.

“Biasanya di suatu wilayah banyak terdapat sesar lokal. Kalau Tarakan itu ada sesar Tarakan, jadi posisinya pada posisi disebelah utara hingga timur laut Tarakan. Ini sesar Tarakan yang biasa menyebabkan gempa lokal di Tarakan,” jelasnya.

Raa’ina mengatakan gempa yang terjadi di Tarakan biasanya disebabkan oleh aktivitas sesar lokal dan Provinsi Kaltara memiliki dua sesar.

“Sehingga dapat memicu terjadinya gempa sesar lokal Tarakan dan sesar mangkalihat yang berada di sebelah tenggara Kaltara. Lalu  itu sesar mendatar, kalau misalnya terjadi gempa karena aktivitas sesar mendatar (horizontal), untuk potensi tsunaminya lebih kecil dari sesar vertikal,” ucapnya.

Baca Juga :  Sidang Pra Peradilan Kasus Dugaan Pemalsuan Dokumen Tanah Ditunda, Polda Kaltara Tidak Hadir

Namun pihaknya akui gempa bumi tidak dapat diprediksi kapan terjadi.

“Sementara tsunami, jika gempa telah terjadi maka pusat gempa nasional akan melakukan pemodelan terkait potensi tsunami. Sebab Tsunami bisa diprediksi melalui jenis gempa. Kalau sejauh ini memang belum ada potensi tsunami dari gempa yang terjadi, karena yang mengakibatkan gempa adalah aktivitas sesar lokal. Kebetulan apabila pusat gempa tidak di perairan, maka tidak mengakibatkan tsunami,” bebernya.

Soal tsunami lanjut Raa’ina dapat terjadi jika pusat gempa terjadi di kawasan perairan.

“Biasanya yang dikhawatirkan saat gempa ialah terjadi longsor, air surut kemudian naik ke daratan. Namun jika pusat gempa terjadi di daratan, maka potensi tsunami tidak ada. Tsunami itu dapat terjadi jika gempa di atas 5 SR. Tapi kriteria tsunami tiap daerah itu berbeda,” pungkasnya.(*)

Reporter: Georgie Silalahi

Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *