Paru-Paru Obstruktif Kronis Bisa Menyerang Kesehatan Perokok Pasif

benuanta.co.id, TARAKAN – Peran utama dokter spesialis paru-paru adalah mendiagnosis dan menentukan langkah apa pengobatan yang tepat untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan pada sistem pernapasan manusia.

Adapun menurut dokter spesialis paru-paru RSUD dr Jusuf SK dr Nila Kartika Ratna, Sp.P mengatakan bahwa penyakit paru-paru ada banyak jenis menyerang kesehatan manusia.

“Bisa dari yang berat-berat seperti kanker paru. Yang ringan seperti asma saja. Atau infeksi saja sebenarnya bukan TB aja (Tuberkulosis) dan corona. Ada yang orang kena paru-paru basah. Atau kena Pneumonia ada yang bronkitis bervariasi,” ungkapnya Kamis (24/11/2022).

Termasuk salah satunya penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK. Kasus tersebut saat ini mendapat perhatian serius dari pemerintah.

“Karena mulai banyak jumlah kasusnya menyerang  kesehatan manusia seperti kerusakan dari saluran nafas dan kerusakan dari paru-paru yang diakibatkan asap rokok itu sendiri dan penyakitnya ini sebenarnya bisa dicegah,” ucapnya.

Selanjutnya berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RisKesDas) tahun 2018 prevalensi PPOK di Indonesia mencapai 3,7 persen.

“Penyebab utamanya memang polusi. Tetapi tentu saja pola hidup sehat yang salah berpengaruh dari makan, harus istirahat yang cukup, berolahraga, terus bagaimana mengelola stres,” ungkapnya.

Lalu rata-rata rentan usia orang yang kena diagnosa sakit PPOK menuju lanjut usia.

“Paling muda usia 35 sampai 40 tahun, biasa di atas rata-rata usia tersebut rentan kena sakit PPOK. Karena untuk si asap rokok itu sendiri berkembang merusak paru kan membutuhkan waktu lama juga,” tuturnya.

Walaupun berdasarkan hitungan epidemiologi Indonesia jumlah kasus PPOK masih sedikit, namun menurutnya kemungkinan besar pasien-pasien bisa lebih banyak.

“Seharusnya terdiagnosis atau ketemu sama pasien sakit PPOK mungkin tidak berobat. Karena biasanya pasien PPOK itu rata-rata latar belakangnya adalah orang-orang yang merokok,” bebernya.

Tak hanya itu, gejala PPOK yakni ketika orang setiap kali merokok tiba-tiba batuk.

“Kadang sesak, kadang-kadang nafas berbunyi. Terus ada juga kalau sampai parah sesaknya sangat berat, berat badan turun, nafsu makan berkurang, badan lemes. Padahal PPOK ini sebenarnya kalau penyebabnya dari asap rokok kan bisa di cegah,” jelasnya.

Ia bahkan menegaskan penyakit PPOK bisa menyerang kesehatan perokok pasif dan aktif.

“Cuman kadang-kadang kesalahan perokok aktif karena dia ketagihan, ia tidak merasa PPOK itu suatu penyakit sebelum penyakit itu menjadi berat. Jadi otomatis kalau yang datang kepada saya. Itu biasanya sudah kondisi sesak berat,” pungkasnya. (*)

Reporter: Georgie Silalahi

Editor: Yogi Wibawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *