Peternak Minta Pemprov Kaltara Serius Atasi Pasokan Sapi yang Menipis  

benuanta.co.id, TARAKAN – Polemik menipisnya stok sapi di Tarakan, mendapat keluhan dari perternak. Salah satu peternak sapi di komplek pasar hewan Hake Babu, Iwan menuturkan sampai saat ini pihak Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kaltara belum mau menerima produk dari luar kota.

“Infonya dari dinas peternakan Provinsi Kaltara untuk sementara ini belum mau menerima sapi dari luar karena adanya penyakit PMK. Cuma kita tidak tahu sampai kapan kejadian PMK. Yang kita mau ada kebijaksanaan dari pemerintah,” ungkapnya Selasa (22/11/2022).

Pihaknya berharap agar Pemprov Kaltara merancang kebijakan kepada para peternak sapi Kota Tarakan.

“Supaya sapi dari luar kota bisa masuk di Tarakan hampir 3 bulanan warga cari sapi di sini. Tinggal dari provinsi saja sudah rembukan atau belum. Kita ini hanya tunggu waktunya kapan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Menilik Alasan Daging Malaysia Selalu jadi Pilihan

Lebih lanjut, Iwan menyebut jika harus bertahan dengan kondisi kandang ternak sapi kosong seperti ini turut memukul ekonominya.

“Butuh daging, terus yang selamatan bagaimana, mau dekat tahun baruan lagi keadaan sapi kosong biasanya dari Gorontalo itu. Nyata pendapatan sudah berkurang. Ya kembali lagi dari pihak Provinsi Kaltara,” ujarnya.

Sebab menurutnya berdasarkan hasil pengamatan tentang harga daging sapi pun saat ini di pasar sudah mahal.

“Sekarang perkilo daging sapi Rp 150 sampai Rp 160 ribu. Padahal biasanya masih dijual dengan harga normal Rp 120 per kilo,” ucapnya.

Baca Juga :  Jaga Ketersediaan Daging Jelang Nataru, DPKP Siap Datangkan Sapi dari Luar 

Pihaknya menilai kasus PMK di salah satu daerah mitra kerjasama Pemkot Tarakan yang biasanya mendatangkan sapi tersebut juga sudah menurun. Tentunya harga bisa terjangkau dan tidak mahal.

“Ini stok sapi kosong habis setelah lebaran Idul Fitri bulan Mei lalu. Kemudian terakhir kami terima sapi lagi pada lebaran haji bulan Juli lalu sekitar 60-an ekor. Sampai sekarang belum ada sapi lagi masuk Tarakan,” bebernya.

Selain itu, lanjut Iwan, proses penggemukan sapi dari luar kota Tarakan memakan waktu selama 3 bulan.

“Makan waktu sampai 3 bulanan. Isitilahnya sapi dari luar kota pastinya perlu adaptasi lingkungan baru lagi supaya tidak stres,” tuturnya.

Baca Juga :  Stok Sapi Menipis, Disnaktangan Khawatir Ancaman Suplai Sapi Ilegal

Bahkan pihaknya menegaskan sapi-sapi dari luar kota yang pernah masuk dalam kandang peternakannya rutin dapat cek kesehatan.

“Dari dinas kesehatan peternakan sini untuk diperiksa supaya tidak sakit PMK,” katanya.

Sebagai informasi untuk harga jual sapi di pasaran sapi imbas adanya pembatasan PMK mencapai Rp 20 juta per ekor tergantung ukuran.

“Rp 19 sampai Rp 20-an juta lebih. Karena ada biaya di Sulawesi itulah buat mahal karena harus di karantina 14 hari. Kemudian diperiksa dokter setiap hari tentunya kan ada cost-cost harus dibayar,” pungkasnya. (*)

Reporter:Georgie Silalahi

Editor: Yogi Wibawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 × 1 =