benuanta.co.id, TARAKAN – Masalah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak tentu bukan menjadi keinginan setiap peternak maupun masyarakat yang ingin mengonsumsi dagingnya.
Ditambah lagi adanya keluhan peternak sapi mengenai peraturan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan PMK melalui Surat Edaran (SE) Nomor 7 Tahun 2022 tentang pengendalian lalu lintas hewan rentan PMK hingga produk hewan rentan PMK berbasis kewilayahan.
Walikota Tarakan Khairul pun angkat bicara bahwa sudah lakukan pemetaan daerah mana bebas PMK.
“Selama ini kan kita datangkan sapi dari NTB, Majawa, dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah. Nah peta secara nasional di Gorontalo Utara itu masih bebas oleh karena itulah kami bikin MoU awal tahun ini dengan Bupati Gorontalo Utara dan masih jalan,” ucapnya Kamis (17/11/2022).
Khairul yakin tidak ada kekosongan stok sapi di Kota Tarakan meskipun beredar informasi terkini daerah penyuplai untuk ketersediaan di Bumi Paguntaka kena zona kuning.
“Kalau ada ya kita stop. Pasti kita akan cari lagi daerah mana yang tidak tertular. Karena kemarin Gorontalo Utara saya belum dapat update soal itu. Nah kalau secara nasional itu masuk zona kuning atau apalagi merah pasti kita tidak akan terima,” ungkapnya.
Lebih lanjut, antisipasi agar tidak terjadi kelangkaan daging sapi di Kota Tarakan pihaknya bersama dinas terkait bekerja sama mencari daerah bebas PMK.
“Saya kira nanti dinas terkait kita beri tugas untuk mencari daerah mana yang bisa mendatangkan,” tuturnya.
Adapun kata Khairul dahulu Pemkot Tarakan banyak melakukan kerja sama dengan luar daerah untuk mendatangkan sapi.
“Cuma karena pada saat terjadi PMK kita stop. Nah kita tinggal ngambil kemarin dari Gorontalo Utara dengan bebas, kok sekarang ada lagi ya kita cari lagi yang lain,” ucapnya.
Kemudian upayakan produk sapi lokal asli Tarakan menurut Khairul produknya hewan tersebut bukan dari daerah tersebut.
“Peternak kita ini rata-rata juga bibitnya bukan dari sini pembibitan itu mereka biasa ambil sapinya dari Gorontalo Utara terus digemukin disini bukan bibit asli sini semua dari sana. Nah kalau sekarang bibitnya bermasalah kan jadi problem,” tuturnya.
Kemudian untuk memenuhi kebutuhan stok masyaramat dengan mendatangkan daging beku dari luar kota Tarakan, Khairul menegaskan kalau berasal daerah kena PMK tentu tidak bisa.
“Kan mau dia beku mau segar kalau dari daerah PMK otomatis tidak boleh masuk. Apalagi kalau impor dari daerah mana harus rekomendasi melalui pusat dan saya kira pasti yang boleh dimasuk dari daerah bebas PMK,” pungkasnya.(*)
Reporter: Georgie Silalahi
Editor: Ramli







