Arnelina Penyandang Disabilitas Tarakan, Batiknya Go International Berkat Pertamina

ARNELINA, perempuan kelahiran tahun 1981 di Kota Tarakan ini termasuk penyandang disabilitas. Tetapi kondisi itu tidak membuatnya lemah semangat dalam mengembangkan dirinya. Tahun 2019, sebelum pandemi melanda Kota Tarakan, Arnelina bertemu dengan Sony Lolong, seorang local hero Pertamina yang menginisiasi untuk menghidupkan batik di Kota Tarakan.

Pertamina EP Tarakan Field memperhatikan nasib penyandang disabilitas di Kota Tarakan, Arnelina menjadi satu diantara difabel yang diakomodir Pertamina untuk bergabung ke dalam Kelompok Usaha Bersama Disabilitas Batik (Kubedistik) Kota Tarakan sebagai mitra binaan Pertamina.

Bukan tanpa alasan Pertamina EP Tarakan Field memilih kaum difabel sebagai mitra binaannya. Hal ini diawali tingginya angka difabel di Kota Tarakan. Dengan tangan dingin Sony Lolong, sebanyak 5 orang difabel mulai diajarkan membatik termasuk Arnelina yang menyandang tuna daksa.

“Iya, saya mulai bergabung itu tahun 2019, sebelum itu saya hanya diam di rumah saja, sejak bergabung dengan Pak Sony sampai sekarang saya ikut belajar membatik,” ujar Arnelina kepada benuanta.co.id.

Berkat kegigihannya, batik lokal Kalimantan Utara (Kaltara) yang dihasilkan Arnelina telah go internaional yakni ke Afrika yakni batik motif Pakis dan motif Pompa Angguk yang menjadi salah satu ikon Kota Tarakan sebagai kota perminyakan sejak zaman Perang Dunia ke-II. “Alhamdulillah bisa dikenal di dunia, saya senang,” ucap Arnelina sembari tersenyum.

Bahkan, kini Arnelina bisa hidup mandiri karena telah memiliki penghasilan sendiri melalui kegiatan membatik. Ini merupakan salah satu tujuan Pertamina EP Tarakan Field kepada mitra binaannya dalam upaya memberdayakan masyarakat di Kota Tarakan, dari yang pengangguran bisa memiliki pekerjaan.

“Ada hasil untuk jajan, buat disimpan,” ujar Arnelina menjelaskan bahwa dengan membatik bersama Kubedistik bisa menjadikan ladang penghasilan baginya.

Arnelina pun berharap batik lokal Kaltara khususnya dari Tarakan bisa dikenal oleh khalayak umum baik domestik hingga mancanegara. “Harapannya bisa lebih dikenal lagi,” singkatnya.

Baca Juga :  Jelang Imlek, Polisi Cek Kesiapan Pengamanan di Tempat Ibadah

Pendamping kaum difabel di Kubedistik, Sony Lolong mengakui Arlenina memang sejak bergabung pada tahun 2019 hingga sekarang sudah menunjukkan minat yang tinggi terhadap kegiatan membatik. Dia selalu bersemangat menghadiri kegiatan membatik di lokasi Kubedistik yang berlokasi di wilayah Kampung Satu/Skip Kota Tarakan.

“Arnelina mulai 2019 sudah bergabung dengan kita sejak awal saya menggandeng mereka, awalnya cuma 5 orang waktu itu, dia mulainya dari nol. Dia punya potensi, skillnya bisa dan mandiri dia aktif sekali,” ujar Sony.

Sony menjelaskan batik motif Pakis dan Pompa bisa go international berawal dari produk yang dibuat Arnelina dibeli oleh pihak Pertamina untuk ditampilkan di pameran Jakarta hingga ke luar negeri. Terlebih membuat Sony terharu batik yang go international ini dihasilkan kelompok disabilitas

“Batik kita memang sudah go international, saya sebagai pembatik bangga lah, karya kita bisa dilirik negara luar. Ini kan sesuatu yang buat kita bangga, dan yang buat ini anak difabel, ketika kita jelaskan ke konsumen bahwa yang buat ini bukan orang biasa dan memang karena batiknya layak dan berkualitas serta pengrajinnya spesial,” ujar Sony.

Sony mengatakan pembuatan batik bisa menelan waktu sehingga semingguan. Membatik di Kubedistik memanfaatkan batik cap menggunakan canting. Dari segi harga, per lembar batik ini dibanderol Rp 350 ribu.

“Yang bawa waktu itu dari pihak Pertamina. Pendampingan masih terus seperti peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM, red) melalui pelatihan, dan promosinya,” jelasnya.

Sejak awal Kubedistik berdiri, Pertamina EP Tarakan Field telah melakukan pembinaan, termasuk memberikan peralatan untuk membatik selain pembekalan ilmu oleh para expert (ahli) dibidang batik taraf nasional. “Kita dibantu alat awalnya, setelah itu kita pembinaan dalam hal pelatihan, seminar dan promosi itu,” tuturnya.

Baca Juga :  Kemenkop RI Dukung Penuh Permodalan Koperasi Merah Putih di Daerah

Di program Kubedistik, kata Sony, tidak semata-mata mengejar bisnis tetapi ada sisi pemberdayaannya, di mana orang-orang yang memiliki keterbatasan bisa punya tempat untuk berkembang dan berkreasi. “Ini murni lokal karena walaupun kita usaha tapi pemberdayaannya kuat,” kata dia.

Di Kaltara peminat batik meningkat karena adanya dukungan pemerintah daerah, tentu ini membuka peluang bagi para pengrajin batik di Kaltara dan Tarakan untuk terus berkembang. “Pemerintah daerah sangat mendukung,” tandas Sony.

Field Managar Tarakan, Isrianto Kurniawan menuturkan, program Kubedistik lahir melihat data tingginya angka disabilitas sekitar 270 orang pada tahun 2019. Kemudian muncul sosok local hero bernama Sony Lolong yang juga dilatih membatik sejak 2011. “Batik mulai menggeliat pada 2019 hingga saat ini. Untuk anggota Kubedistik ada 26 orang difabel,” ujar Isrianto.

Tahun 2022 Pertamina tidak hanya menggelar di lokal tapi juga secara nasional hingga internasional, Pertamina Hulu Indonesia Regional 3 tampil di Afrika pameran batik Indonesia. Di sinilah batik cap motif pakis, pompa angguk dan motif lainnya asal Kota Tarakan menjadi sorotan dunia internasional.

“Jadi, dibawa batik Kaltara motif Pakis, motif Pertamina, Rig, hingga Pompa Angguk, semuanya habis tidak ada yang dipulangkan ke Indonesia,” jelas Isrianto.

Kenapa pangsa pasarnya Afrika, lanjut Isrianto, karena coraknya Kalimantan hampir mirip dengan yang disukai orang Afrika seperti suka warna cerah. Kini, Pertamina EP Tarakan Field sedang menyiapkan batik untuk dipasarkan ke Jepang. “Jepang suka batik kalem warna alam,” ucapnya.

Produksi batik melalui kegiatan Kubedistik sejak 2021 hingga 2022 hampir 4.000 pieces (pcs). Hingga Oktober 2022 saja pesanan 1.500 pcs. “Paling banyak orderan dari ASN, sekarang ini ranahnya ke sekolah, guru-guru diminta  menggunakan batik, Pertamina setiap Kamis pakai batik logo Pertamina warna biru,” jelasnya.

Baca Juga :  Ombudsman Angkat Bicara Wacana Pusat Pemerintahan Tarakan Pindah ke Wilayah Utara

Dari sisi ekonomi program ini sudah dianggap mandiri karena pendapatannya pada tahun 2021 mencapai Rp 200 juta.

Pemerhati batik dan pengrajin batik di Kaltara, Anto Gondrong terus mendorong pembatik muda di Kaltara termasuk Kota Tarakan terus berkreasi.

“Jangan berhenti mencoba hal yang baru, ini pasarnya jelas, tempat penampungan penjualannya ada, tinggal kita yang berkreasi meningkatkan produksi. Harapannya ke depan pembatik di Kaltara bisa lebih maju lagi memproduksi batik yang menarik lagi,” ucap Anto.

Wali Kota Tarakan dr. Khairul, M.Kes mengatakan kaum disabilitas jangan minder, merasa tidak berguna, apalagi merasa menjadi beban keluarga dan masyarakat. Disabilitas memiliki harapan dan mampu berkarya sama seperti manusia pada umumnya.

“Disabilitas punya harapan dengan adanya program dari Pertamina EP Tarakan Field ini. Kita berharap Kubedistik terus berkesinambungan,” ungkap Wali Kota Tarakan.

Akademisi bidang ekonomi di Kaltara yang juga anggota tim ahli Bank Indonesia di Kaltara, Dr. Ana Sriekaningsih, SE, MM menyebutkan setiap warga negara memiliki cara tersendiri dalam pembangunan.

Penyandang disabilitas yang juga memiliki hak dalam mengekspresikan kemampuannya dalam peran serta kontribusi pada perekonomian seperti program Kubedistik, melalui mitra binaan bisa berkembang dan berkreasi. Dr. Ana memandang ini hal positif dan patut diapresiasi.

“Banyak penyandang disabilitas mampu melakukan peran yang jauh lebih hebat dari orang-orang normal pada umumnya. Maka, wajar jika kita harus memberikan ruang ekspresi, karena mereka punya potensi dalam pembangunan dan menyokong perekonomian daerah,” tuturnya.(*)

Penulis: Ramli

Editor: Nicky Saputra

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *