benuanta.co.id, TARAKAN – Siaran Tv analog ke digital resmi ditetapkan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pada 2 November lalu. Alhasil Set Top Box (STB) yang menjadi perangkat penting dalam siaran Tv digital menjadi barang yang kini diburu masyarakat. Namun harga STB ini juga dikeluhkan masyarakat lantaran tergolong mahal.
Salah satu sales promotion male Toko Perdana Elektronik di Tarakan, Okto Efendi mengatakan banyak warga berdatangan untuk membeli STB.
“Untuk 1 minggu ini dari Senin kemarin mereka (masyarakat) sudah ancang-ancang bahwa ada pemberitaan di sosial media tentang peralihan siaran Tv analog ke digital,” kata Okto Jumat (4/11/2022).
Dalam seharinya, STB yang dibeli oleh masyarakat di tokonya mencapai 3-5 produk.
“Satu hari kadang 3 sampai 5 warga beli STB, bahkan sampai borong lebih dari 5. Produk yang kami jual merk Matrix harganya Rp 250 ribu dengan 17 siaran Tv digital,” tuturnya.
Ia menungkapkan, rata-rata warga membeli STB mayoritas yang masih menggunakan Tv tabung. “Tapi kalau Tv-nya digital pakai antena outdor, sudah dapat siaran. Sebelum mereka beli STB kita selalu tanya Tv-nya tahun berapa. Karena takutnya mereka sudah beli dan tidak bisa dipakai rugi juga,” bebernya.
Sementara itu, Nia warga Juata Kerikil menambahkan peralihan siaran Tv analog ke digital menurutnya membantu.
“Sangat membantu ya karena dari segi siaran tidak ada gambar semut-semut, lebih jernih lalu tidak hilang-hilang sinyal kalau kena hujan maupun angin kencang kemudian siaran Tv-nya banyak,” ujar Nia.
Namun pihaknya menyayangkan soal harga STB di Kota Tarakan terbilang mahal. “Mungkin karena produknya juga dari luar daerah dan channel yang ditawarkan lebih banyak serta sinyal siaran lebih banyak makanya mahal,” tuturnya.
Tak hanya itu, ia berharap Pemkot Tarakan bisa mengakomodir bantuan khusus program STB bagi masyarakat yang kurang mampu.
“Apalagi Tv LED harganya mahal serta memadai dengan kualitas diberikan sehingga menggunakan Tv tabung pun sudah lebih dari cukup buat menghibur keluarga dalam rumah,” pungkasnya. (*)
Reporter: Georgie Silalahi
Editor: Yogi Wibawa







