Pergerakan Tanah Sebabkan Dua Rumah dan Satu Sekolah di Sebatik Hampir Terbelah

benuanta.co.id, NUNUKAN – Intensitas curah hujan yang tinggi disertai angin kencang dan pergerakan tanah, menyebabkan sejumlah bangunan di Desa Sei Limau, Kecamatan Sebatik mengalami rusak dan retak pada Minggu (16/10/2022) lalu.

Kasubid Informasi BPBD Nunukan, Basir menegaskan ada tiga bangunan di tiga titik Desa Sei Limau yang mengalami kerusakan akibat tanah bergerak yakni dua rumah dan satu bangunan sekolah.

“Sudah dilakukan peninjauan, untuk lokasi pertama, rumah milik Tamrin yang berada di RT 10, penyebab bangunan tersebut retak akibat dampak dari pembangunan SDN 005 di Sebatik Tengah,” ujar Basir kepada benuanta.co.id, Selasa (18/10/2022).

Baca Juga :  Pemkab Nunukan Luncurkan Food Court UKM Center, Turut Hadirkan Layanan Perizinan Gratis

Diungkapkannya, ada bangunan turap penahan tanah yang tidak mampu menahan lajunya debit air dan tekanan tanah, sehingga tanah dasar menjadi bergerak atau bergeser dan merusak turap penahan tanah tersebut.

Basir mengatakan, saat ini posisi tiang rumah Tamrin sudah miring dan bangunannya rawan runtuh, kendati demikian, Tamrin sekeluarga masih menempati rumah tersebut.

“Masih ditempati, tapi sudah kita imbau untuk mencari rumah alternatif karena bangunan tersebut sangat rawan runtuh, saat ini lagi musim hujan, kita juga minta kepada masyarakat sekitar untuk tetap berhati-hati,” katanya.

Baca Juga :  Penyeberangan Truk Nunukan-Sebatik Kembali Dibuka Sementara

Sementara itu, untuk bangunan kedua yang rusak akibat dari tanah bergerak ini yakni rumah Gusri Hering Liman yang berada di RT 9, Loudres. Bangunan rumah tersebut berada di lereng bukit, sehingga rawan terjadi longsor.

“Jadi tiang dan bangunannya itu sudah rapat di tanah, jadi pemiliknya langsung lakukan pembongkaran, untuk pemiliknya sekarang tinggal di rumah kerabatnya yang tidak jauh dari lokasi rumahnya,” ucap Basir.

Lebih lanjut, Basir menjelaskan untuk bangunan ketiga yakni gedung sekolah di SMPN 1 Sebatik yang berada di Desa Sei Limau, yang mana diketahui bangunan sekolah tersebut dibangun di atas tanah timbunan, sehingga sangat mudah bergerak dan terjadi longsor.

Baca Juga :  301 WNI Bermasalah Dideportasi dari Malaysia

Akibat kerusakan tersebut, dari 5 ruang kelas, kini hanya 4 kelas yang digunakan. Lantaran satu kelas tersebut sudah sangat parah dan memiliki retakan besar di titik bangunannya sehingga tidak memungkinkan untuk digunakan.

“Dari Camat juga sudah mengimbau kepada Kepala Sekolah untuk melaporkan kepada Dinas Pendidikan Provinsi terkait kondisi bangunan sekolah tersebut agar segera dilakukan perbaikan,” pungkasnya. (*)

Reporter: Novita A.K
Editor: Matthew Gregori Nusa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *