benuanta.co.id,TARAKAN – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) menjadi perhatian serius. Kasus DBD di Tarakan menyentuh angka ratusan orang.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tarakan, dr. Devi Ika Idriarti, M.Kes mengimbau kepada masyarakat agar rutin melakukan Menguras, Menutup dan Mengubur (3M). Pihaknya juga mengupayakan himbauan ini dalam bentuk edaran dari Wali Kota Tarakan.
“Karena kan tidak mungkin kami saja yang bergerak, masyarakat juga harus bergerak. Karena kalau kita melihat dari Januari sampai Oktober itu tidak pernah turun kasusnya,” bebernya, Sabtu (7/10/2022).
Pada bulan September lalu, kasus DPD menyentuh kisaran 60 kasus DBD. Adapun puncak kasus ini ialah di bulan Agustus yang sangat tinggi. Pihaknya juga mengharapkan untuk tiga bulan terakhir di 2022 tidak terjadi peningkatan kasus DBD hingga berakhir tahun ini.
“Jadi total itu 400 lebih, itu tidak melihat umur, ada yang anak-anak ada yang dewasa,” tutur Devi.
Angka 400 kasus itu diakumulasikan dari Januari hingga September tahun 2022. Untuk itu ia sangat berharap masyarakat memiliki kesadaran kebersihan lingkungan. Jika terdapat tumpukan barang agar segera diurai agar tak menjadi sarang nyamuk.
Devi melanjutkan kasus DBD di tahun ini terdapat 4 meninggal dunia yakni pada bulan Februari 2 orang, April 1 orang, dan bulan September 1 orang.
“Kasus meninggalnya sampai September ada 4, kemarin itu mayoritas anak-anak,” katanya.
Menyoal fogging sendiri pihaknya perlu melakukan penyelidikan epidemiologi. Artinya jika terdapat kasus positif DBD di lingkungan tersebut pihaknya langsung melakukan penyelidikan dan jika hasilnya positif barulah fogging dapat dilakukan. Tak hanya fogging, ia juga mengatakan terdapat pembunuhan jentik atau abatasisasi.
“Fogging kan pembunuhan nyamuk dewasa jadi kita lihat apakah disitu sumber penularannya apa bukan, kadang-kadang masyarakat salah kaprah. Misal sudah positif minta difogging padahal bukan disitu sumber penularannya mungkin ditempat lain,” urainya.
“Kalau abatisasi itu lebih bagus, kita bunuh jentiknya dari awal jadi tidak ada nyamuk. Karena kita lihat juga tingginya kasus DBD ini korelasi dengan angka bebas jentik kita masih di bawah 95 persen,” tutupnya.(*)
Reporter: Endah Agustina
Editor: Ramli







