Bank Indonesia: Dua Komoditas Utama Ini “Biang Kerok” Inflasi di Kaltara

benuanta.co.id, TARAKAN – Meski masih dalam kategori aman, namun kondisi inflasi di Kalimantan Utara (Kaltara) sampai sekarang masih terus berpotensi naik. Perwakilan Bank Indonesia Kaltara menyebutkan, terdapat dua komoditi utama biang kerok inflasi di Kaltara.

Dua kelompok komoditas yang mempengaruhi inflasi di Kaltara, di antaranya adalah dari Volatile Food (komoditas hortikultura) dan Administered Price (angkutan udara).

Menurut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kaltara, Teddy Arief Budiman bahwa dengan isu keterbatasan pasokan komoditas hortikultura secara nasional, pada pertengahan tahun 2022 diketahui penyebabnya karena faktor cuaca buruk di daerah pemasok sehingga panen menjadi kurang optimal.

Kemudian pada sektor angkutan udara juga memberikan andil terhadap inflasi Kaltara sejalan dengan isu nasional.

Kata Teddy Arief Budiman, penyebab terjadi keterbatasan jumlah penerbangan secara nasional, sebagai dampak dari dihentikannya operasional pesawat pada tahun 2020 lalu, akibat pandemi Covid-19.

Baca Juga :  Permudah Pelamar PPPK, Panitia Seleksi Siapkan Website Sebagai Panduan

“Namun efek demikian, ke depan kelompok tersebut pada masa mendatang diprediksi akan semakin stabil seiring dengan panen yang semakin optimal serta ketersediaan angkutan udara dan harga avtur yang semakin kondusif,” ujar Teddy Arief Budiman Kamis (29/9/2022).

Lebih lanjut, kata Teddy, situasi inflasi Kaltara pada bulan Agustus 2022 tercatat mengalami deflasi sebesar 0,58 persen mtm.

Bahkan Teddy menilai kondisi tersebut disebabkan oleh menurunnya tekanan harga pada komoditas hortikultura seperti aneka cabai dan bawang merah.

“Tidak hanya itu saja, efek turunnya harga pada komoditas tersebut seiring karena telah masuknya musim panen di sejumlah daerah pemasok aneka cabai dan bawang merah di Kaltara  yakni Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Termasuk, harga angkutan udara juga mengalami penurunan tekanan di tengah turunnya harga avtur dunia,” urainya.

Baca Juga :  Korem Maharajalila Akan Punya Rumah Sakit, Anggarannya dari Kemenhan

Berdasarkan data tersebut, Teddy mengatakan selama 3 tahun terakhir ini komoditas yang secara persisten memberikan andil terhadap inflasi di Kaltara seperti komoditas aneka cabai, bawang merah, dan angkutan udara.

“Komoditas hortikultura tersebut memiliki persistensi inflasi disebabkan oleh pasokannya di Kaltara yang mayoritas masih dipenuhi dari daerah di luar Kaltara,” ungkapnya.

Sementara itu, lanjut Teddy tentang efek inflasi pada sektor angkutan udara, disebabkan oleh tingginya demand di tengah terbatasnya jumlah penerbangan di Kaltara

Termasuk faktor kenaikan harga avtur dunia yang dipicu oleh perang Rusia dan Ukraina pada tahun 2022, juga turut berdampak pada persistensi inflasi dari komoditas tersebut.

Baca Juga :  Pembukaan Porwanas XIII Jatim, Kontingen Kaltara Perkenalkan Singal Khas Lokal

“Dengan demikian, KPwBI Provinsi Kaltara melalui wadah beserta Pemerintah Daerah TPID di Provinsi Kaltara menerapkan beberapa langkah strategis untuk menangani isu tersebut, di antaranya melalui penanaman bibit bawang merah dan aneka cabai dengan metode demplot di sejumlah lokasi di Kaltara. Harapannya, penanaman tersebut dapat direplikasi sehingga mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar Kaltara,” bebernya.

Kemudian pada komoditas angkutan udara dijelaskan Teddy, TPID terus berkomunikasi dan menjaga koordinasi dengan pihak maskapai terkait kondisi dan prospek penerbangan di Kaltara.

“Ya harapannya, pihak maskapai dapat menambah jumlah penerbangannya di Kaltara. Untuk itu TPID Provinsi Kaltara terus bersinergi dalam menyusun dan mengimplementasikan strategi penanganan inflasi,” tutupnya. (*)

Reporter: Georgie Silalahi

Editor: Matthew Gregori Nusa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

13 − 3 =