Sempat Berjalan Alot, Harga Baru Udang Kini Disepakati

benuanta.co.id, TARAKAN – Harga jual udang yang anjlok membuat pembudidaya khususnya pengusaha udang memberikan desakan ke pemerintah. Hal inilah yang membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan membuat pertemuan dengan pengusaha dan nelayan udang untuk melakukan rapat penentuan harga udang.

Wali Kota Tarakan, dr. Khairul, M. Kes menjelaskan terdapat kesepakatan yang sudah pihaknya putuskan yaitu untuk udang dengan size 20 mengalami kenaikan harga sebesar Rp 15 ribu. Sedangkan untuk size di atas 20 terdapat kenaikan Rp 10 ribu.

“Adjustment-nya nanti dibicarakan lagi lah dengan para supplyer karena kayaknya mereka tetap mau ke supplyer,” jelasnya, Senin (26/9/2022).

Khairul menegaskan juga akan mengundang para supplyer untuk memaparkan kesepakatan dari harga tabel tersebut. Harga yang disepakati tersebut juga telah melibatkan petambak.

Baca Juga :  Peternak Minta Pemprov Kaltara Serius Atasi Pasokan Sapi yang Menipis  

“Jadi supaya satu bahasa dengan cold storage dan supplyer. Karena memang tidak bisa dikumpul jadi satu, kita pisah. Ini aja sudah alot banget. Ya cold storage dengan petambak udah oke tinggal dengan supplyer,” ungkapnya.

Atas keputusan ini ia berharap agar supplyer dapat mengerti dengan kondisi yang sulit saat ini. Untuk dapat membagi keuntungan juga dengan para petambak.

Terpisah, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kaltara, Peter menerangkan penentuan harga ini terbilang sulit, namun pihaknya harus memahami tentang kondisi negara akibat perang Rusia Ukraina yang menyebabkan resesi dunia.

“Sudah 30 negara itu bangkrut karena resisi dunia, jadi pak Jokowi itu menyatakan hati-hati karena inflasi ini,” terangnya.

Baca Juga :  Menilik Alasan Daging Malaysia Selalu jadi Pilihan

Apalagi diskusi yang dilakukan pihaknya dengan petambak dan pemerintah berlangsung cukup alot. Namun ia tak mau memaksakan dari situasi ini yang akan berdampak langsung ke tenaga kerja. Terlebih pada tahun 2023 mendatang pihaknya juga harus melakukan pembahasan terhadap Upah Minimum Kerja (UMK).

“Jadi perang Rusia ini uang mereka turun jauh, jadi dari euro sebelum perang itu lebih tinggi dari US Dolar, sekarang euro lebih turun. Gandum sekarang susah, dan indomie juga naik harganya kan dari Rp 2.100 sekarang Rp 3.000,” bebernya.

Dari kurs yang menurun ini membuat para negara turut merasakan dampaknya seperti negara Jepang yang notabene udang menjadi bahan pokok mereka.

Baca Juga :  Cegah Keluarga Miskin Baru, Menko PMK Berharap PHK Jadi Jalan Terakhir Pengusaha

“Dulu mereka udangnya yang besar-besar sekarang jadi kecil-kecil, ekspor juga tidak ada buyer, ya kita saling komunikasi aja ini juga supplyer semakin bertambah,” ujar Piter.

Hal ini juga dipengaruhi beberapa negara saat yang saat ini menunggu dan melihat yang impornya lari ke negara Jepang. Karena size 20 dapat bertahan selama 4 bulan. Sedangkan Indonesia tidak mampu menerapkan hal tersebut.

“Jadi semua saudara kita semua rantai, kalau petambak maksa pabrik beli sekian terus demo demo mati juga tidak ada yang beli kita sama-sama jaga keamanan Tarakan,” tutupnya. (*)

Reporter: Endah Agustina

Editor: Yogi Wibawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 + 18 =