Kasus Laka Laut Berujung Maut, Ahli Pidana UI: Ada Dua Tindak Pidana Disini

Ahli Forensik RS dr. H. Jusuf SK: Kematian 3 Korban Karena Tubrukan dan Tenggelam

benuanta.co.id, TARAKAN – Sidang laka laut dengan terdakwa AS kembali digelar di Pengadilan Negeri Tarakan. Pada agenda sidang kali ini yaitu mendengarkan keterangan dari ahli pidana dan ahli forensik. Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan ahli pidana Dr. Eva Achjani Zulfa, S.H., MH., dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan ahli forensik dr. Anwar Junaidi dari Dokter Forensik RSUD dr. H Jusuf SK.

Pantauan benuanta.co.id di lapangan turut hadir pula keluarga korban laka laut untuk menyaksikan jalannya persidangan.

Berdasarkan fakta persidangan yang terdapat selama berjalannya sidang Dr. Eva Achjani Zulfa dimintai pendapat mengenai dakwaan primer Pasal 338 Subsider Pasal 359 yang disangkakan kepada terdakwa AS. Ia menjabarkan, menurutnya laka laut ini dapat diakibatkan oleh dua kemungkinan yakni unsur kesengajaan atau kelalaian.

“Dalam dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum saya dalam hal ini tidak bisa menilai secara langsung, tetapi kategori yang disebutkan pengemudi yang tidak punya surat kecakapan mengemudi, kemudian kondisi penerangan yang tidak memadai dalam perjalanan malam sehingga tidak bisa melihat perjalanan dengan baik itu,” beber Ahli Pidana dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Dr. Eva Achjani Zulfa, S.H., MH., Rabu (21/9/2022).

Baca Juga :  Usai Karaoke Mawar Disetubuhi Dua Pria, Satu Pacarnya Satu Lagi Temannya

Ia menyebutkan bahwa kategori pengemudi yang tidak memiliki surat kecakapan serta kondisi penerangan speedboat yang tidak memadai bisa disebut dengan culpa (kelalaian). Menurutnya, mungkin saja AS tidak memiliki kesengajaan tetapi seharusnya dapat menyadari kondisi perjalanan yang tidak baik alangkah baikya tidak memaksakan untuk mengemudi.

“Dalam hal ini pengemudi tahu dia tidak punya izin mengemudi, tahu penerangan juga tidak sesuai. Konteks perbedaan lalai dan sengaja itu tipis, jadi ketika dia mengambil resiko untuk terjadinya akibat jadi itu bukan culpa,” ungkapnya.

Ia juga menyikapi persoalan terdakwa AS yang sudah menyadari bahwa dirinya menabrak sesuatu namun ia memilih untuk tidak mencari tahu. Begitupun dengan saksi HR yang pada saat itu mengetahui kejadian namun tidak langsung melapor karena mendapat arahan dari saksi FR atas perintah HSB.

Baca Juga :  Warga Pesisir Minta Pendirian Pos Penjagaan, Antisipasi Peredaran Narkoba

“Ada dua tindak pidana disini, menyembunyikan satu tindak pidana sebetulnya perbuatan untuk menghalang-halangi proses hukum seperti menyembunyikan alat bukti ataupun menghilangkan alat bukti. Dalam KUHP Pasal 224 jadi ada tindak pidana untuk menyembunyikan fakta atau peristiwa pidana,” urainya.

Sementara itu, Ahli Forensik RSUD dr. H Jusuf SK, dr. Anwar Junaidi yang mana sebagai dokter yang melakukan autopsi pada jenazah ketiga korban menjelaskan kematian ketiga korban didasari oleh tubrukan atau hantaman benda tumpul.

Ia memaparkan untuk luka-luka yang ada di sekujur tubuh korban pun nampak tidak rapi dan bergerigi dikarenakan kerasnya tubrukan antar kedua speedboat. Adapun luka-luka pada tubuh korban terdeteksi pada bagian punggung, kaki, kepala, wajah, paha, dan pinggul.

Baca Juga :  ICJR Kirim "Amicus Curiae" untuk Ringankan Vonis Richard Eliezer

“Untuk korban itu kondisinya sudah busuk, perubahan warna kulit juga ada luka-luka benda tumpul kemudian kita lanjutkan dengan autopsi, untuk korban yang segar yaitu Almarhum Agusliansyah luka robek pada kepala kiri itu dikarenakan benda tumpul, jadi sebelum dia tenggelam itu dia sudah meninggal,” paparnya.

Ia menyebutkan untuk analisis dari kedua korban lain Almarhum Rizky dan Almarhum Arfan meninggal dikarenakan tenggelam. Ia meyakini secara pengetahuan forensiknya luka serta patahnya tulang pada korban diyakini karena kerasnya benturan dari benda tumpul yang diduga adalah speedboat.

“Jadi kalau benda tajam lukanya itu rapi, tumpul bergerigi lukanya dan korban juga semua bergerigi. Almarhum kan lukanya di panggul besar, itu tidak langsung meninggal butuh proses. Dikatakan fatal karena semuanya kekerasan dari benda tumpul,” tandasnya.(*)

Reporter: Tim Benuanta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *