Alatnya Sensitif, Akselerograf di KTT Akan Dikalibrasi Ulang

benuanta.co.id, BULUNGAN – Walaupun Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) bukan jalur cincin api atau jalur gunung api. Namun gempa tetap harus diwaspadai oleh masyarakat. Beberapa daerah di Kaltara sendiri memiliki riwayat pernah di guncang gempa di antaranya Tarakan dan Kabupaten Tana Tidung (KTT).

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan, Abdul Haris Zulkarnain mengatakan Kaltara bukan merupakan wilayah rawan gempa. Tetapi demikian, Kaltara memiliki potensinya walaupun kecil

“Kalau gempa disini mudah-mudahan tidak ada, kalaupun ada tapi peluangnya kecil, tapi bukan berarti tidak, contoh beberapa waktu lalu di Tarakan ada gempa,” ucapnya kepada benuanta.co.id, kemarin.

Baca Juga :  BPBD Bulungan: Dua Kecamatan Potensi Banjir dan Daerah Ini Rawan Longsor

Jika selama ini, masyarakat telah terbiasa dengan bencana alam berupa banjir dan tanah longsor. Maka sejak dini masyarakat harus memiliki pengetahuan tentang kegempaan.

“Jadi memang masyarakat harus mendapatkan edukasi, karena memang yang bahaya itu justru yang jarang terjadi. Karena masyarakat tidak waspada,” tuturnya.

“Beda dengan banjir, masyarakat lebih siap karena kerap mendapatkan banjir dan telah beradaptasi,” sambungnya.

Langkah antisipatif kegempaan di Kaltara, BMKG Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan telah memasang alat pendeteksi gempa atau Akselerograf di Tana Tidung tepatnya di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KTT.

Baca Juga :  Hanura Bulungan Tetap Buka Penjaringan Balon, Pendaftar Harus Punya Citra yang Baik

“Namun begitu, kami sudah memasang alat pendeteksi gempa atau akselerograf) di Kabupaten Tana Tidung (KTT),” jelas Abdul Haris Zulkarnain.

Setelah dipasang, alat tersebut tetap harus dirawat dan perhatikan. Dia melanjutkan, dalam waktu dekat ini pihaknya akan melakukan perawatan secara berkala alat yang sudah dipasang tersebut.

“Kita akan kesana sembari menunggu tim dari Jakarta, kita mau melakukan maintenance, karena alatnya otomatis sangat rawan,” bebernya.

Baca Juga :  Tak Ada Korban Jiwa Jembatan Ambruk di Bunyu

Kata dia, Akselerograf itu harus dilakukan pengecekan kembali dan harus dilakukan proses kalibrasi. Karena posisinya berada di dalam dan permukaan tanah, maka sesering mungkin dilakukan pengecekan.

“Jadi alat ini harus dikalibrasi kembali dan mengecek apakah alatnya terganggu, biasanya itu jadi sarang semut. Biasanya ini aliran listrik nya terpengaruh. Selama terpasang, hasilnya yang kami terima ada namun getaran gempa kecil,” pungkasnya. (*)

Reporter: Heri Muliadi

Editor: Matthew Gregori Nusa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *