oleh

Optimalkan Keutuhan NKRI Dalam Moderasi Beragama

Oleh: Daniel Silaban

Peserta LATSAR CPNS Kemenkominfo Angkatan 26 Tahun 2022

 

MODERASI dalam beragama niscaya akan menghindarkan kita dari sikap ekstrem berlebihan, fanatik dan sikap pemecah belah dalam beragama. Sebab pemahaman moderasi beragama sesungguhnya juga merupakan kunci terciptanya toleransi dan kerukunan, khususnya di kabupaten nunukan, Provinsi Kalimantan utara.

Berbagai pendekatan yang pernah dilakukan oleh Pemerintah Daerah dalam menciptakan karakter moderasi beragama, menjadi modal dalam menghasilkan kesiapsiagaan bela Negara. Perilaku bela negara akan menjadi modal bagi masyarakat perbatasan karna rentan dengan berbagai isu dan informasi yang dapat menyeret pada perpecahan.

Salah satu upaya Pemerintah Daerah Kabupaten Nunukan, bekerja sama dengan Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) (29/7) melaksanakan Goes To School, pertama kalinya di tingkat sekolah  SMKN 1 Nunukan, dengan harapan para peserta dapat menanamkan toleransi umat beragama diantara para pelajar agar tidak terjadi perpecahan sesama umat beragama.

Pemahaman tentang moderasi beragama sudah ditanamkan sejak dini, sehingga ke depan tidak lagi dikhawatirkan akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan bersama, memilki nilai kemanusiaan yang baik, silaturahmi yang kuat dan etika dalam menerima semua perbedaan, asas menjunjung tinggi nilai dan budaya dalam bernegara dan kurikulum yang seimbang di bawah Panji Pancasila.

Kita ketahui bersama, bahwa di tahun 2022, adalah tahun masuknya tahapan Pemilu dan Pilkada yang dilaksanakan secara serentak pada 2024 mendatang. Ambisi serta kemeriahannya sudah mulai terasa sejak saat ini, demikian juga dengan menyeruaknya politisasi agama yang merupakan hal buruk bagi Indonesia. Seharusnya, hal itu bisa dicegah melalui paham moderasi agama agar tidak menimbulkan perpecahan di masyarakat.

Ingat, Bangsa ini telah berumur 77 tahun dan sudah banyak belajar pada pengalaman yang pernah terjadi, bagaimana bangsa ini dengan mudahnya masuk dalam lingkaran perpecahan dan adu domba. Masih segar dalam ingatan bagaimana tragedi Sampit terjadi, 18 Februari 2001, Konflik ini mengakibatkan lebih dari 500 kematian, dan lebih dari 100.000 warga Madura kehilangan tempat tinggal di Kalimantan.

Moderasi beragama adalah sebuah kemajuan atau perubahan masyarakat dalam bidang keagamaan atau kepercayaan menjadi toleran antar sesama suku, ras, tapi tidak mengabaikan nilai keagamaan. Indikator penguatan moderasi beragama dapat terlihat dari adanya komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan serta penerimaan terhadap tradisi.

Moderasi beragama harus dipahami sebagai sikap beragama yang seimbang antara pengamalan agama sendiri dan penghormatan kepada praktik beragama orang lain yang berbeda keyakinan.

Pengembangan Moderasi Beragama pada lembaga pendidikan keagamaan Islam, Kristen, Hindu dan Buddha secara signifikan menunjukkan sikap moderat dalam beragama, tetapi belum menjadi kesadaran bersama untuk dijadikan modal dasar, menginisiasi dan membangun relasi sosial keagamaan yang jauh lebih erat dan produktif, baik untuk tujuan keagamaan itu sendiri maupun tujuan kebangsaan secara luas.

Secara umum sebagian orang menganggap, Wacana moderasi beragama memiliki relasi dan posisi yang penting bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun, praktik moderasi beragama belum optimal secara utuh dalam kehidupan sosial sehari-hari.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

eleven + 9 =