Good Bye TV Analog, Tahun Ini Siaran TV di Kaltara Akan Beralih ke Digital

benuanta.co.id, TARAKAN – Berdasarkan program dari Kementerian, Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Siaran Televisi (TV) kabel dengan distribusi analog akan segera dimatikan. Program ini disebut sebagai Analog Switch Off (ASO).

Bukan bertujuan untuk menghapus maupun mengurangi fasilitas hiburan masyarakat, justru program ASO sendiri membantu masyarakat untuk migrasi ke siaran TV digital yang lebih berkualitas.

Pelaku Usaha TV Kabel di Tarakan sekaligus anggota Asosiasi TV Kabel Indonesia (ATKI), Abdul Holik mengatakan ASO bertahap telah dimulai sejak April 2022.

“Di Kalimantan Utara (Kaltara), khususnya di Kota Tarakan, tentunya akan turut mengikuti program ASO tersebut. Seperti yang diketahui, mayoritas masyarakat Tarakan menggunakan siaran TV kabel analog untuk menonton TV,” ujarnya kepada benuanta.co.id.

Sebagai pengecer konten premium dan dengan tujuan menyukseskan program ASO dari Kemenkominfo, semua pelanggan TV kabel di Tarakan akan diarahkan untuk beralih ke TV digital.

Baca Juga :  Kurangnya Suplai Sapi Pengaruhi Peredaran Daging Ilegal

“Batas akhir peralihan siaran pada November 2022 mendatang. Tentunya kebijakan kita ke para pelanggan tidak langsung semerta-merta mematikan TV kabel analog, jadi diperlukan proses peralihan dari analog ke TV digital,” sebutnya.

Proses awalnya dimulai dengan aktivasi dan registrasi seluruh pelanggan, kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi. Diperkirakan akan memakan waktu 3 bulan, yakni sejak September, Oktober dan November.

Dampak Analog Switch Off

Abdul Holik lanjut menjelaskan, saat ini jumlah pelanggan televisi analog/kabel sendiri masih belum bisa diperkirakan. Namun dengan adanya peralihan siaran ke TV Digital, jumlah pelanggan bisa menjadi lebih transparan melalui aktivasi dan registrasi TV digital.

“Selain itu, migrasi siaran ke TV digital juga berdampak terhadap kualitas gambar yang berubah ke High Definition (HD), dan suara yang dihasilkan juga tidak mono, sehingga kualitas suara menjadi lebih jernih,” jelasnya.

Baca Juga :  Kasus Dugaan Pungli di KSOP Tarakan Masih Terus Bergulir di Tangan Penyidik

Negatifnya, dengan bertambahnya konten premium dan kualitas tampilan, perlu diakui tarif pelanggan perbulannya pun diperkirakan akan lebih tinggi dibandingkan dengan TV Kabel

“ASO di Kaltara sendiri akan diterapkan di Tarakan, Nunukan, Tanjung Selor dan kabupaten lain di tahap berikutnya. Para pelanggan mohon dukungannya, karena kita juga bertujuan untuk mematuhi program pemerintah,” pungkasnya.

ASO dari Kacamata Hukum

Terpisah, Ahli Hukum sekaligus Akademisi Universitas Borneo Tarakan (UBT), Mumaddadah, S.H., M.H mengatakan melalui program ASO, siaran TV kabel analog akan dipadamkan.

Dijelaskan Mumaddadah, hal tersebut tertuang di dalam UU nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Hal tersebut dinilainya merupakan payung hukum utama dari dasar hukum yang penting bagi sektor penyiaran dan transformasi digital.

Baca Juga :  2 Tahun Jalin Kerja Sama, Guru Besar UBT Bawa Materi Pengembangan Metode PBL ke Faculty of Law Maastricht University

“Melalui PP No. 46 tahun 2021 tentang Pos, Telekomunikasi, dan Penyiaran mewajibkan siaran TV beralih dari analog ke digital. Paling lambat masa peralihan tersebut yakni pada November 2022,” sebutnya.

Mumaddadah lanjut menjelaskan, pada Pasal 97, PP No. 46 tahun 2021 itu disebutkan bahwa Lembaga Penyiaran Publik (LPP), Swasta (LPS), dan Komunitas (LPK) itu saat ini masih bisa bersiaran secara analog, digital atau bersamaan (simulcast), namun paling lambat siaran televisi analog harus dihentikan paling lambat 2 November 2022.

“Bagi yang tidak mengindahkan akan terkena sanksi administratif berupa pencabutan ISR untuk televisi analog,” pungkas mantan Pimpinan Bawaslu Kaltara tersebut. (*)

Editor: Matthew Gregori Nusa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four × 4 =