benuanta.co.id, TARAKAN – Pelaku pengeroyokan yang terjadi di salah satu pintu lapangan futsal yang berada di Jalan Bhayangkara pada 15 Agustus 2022 lalu kini telah berada dalam pantauan pihak kepolisian.
Kasat Reskrim Polres Tarakan, IPTU Muhammad Aldi melalui Kanit Pidum, IPDA Muhammad Farhan menerangkan sebelum berhasil meringkus 14 anak pelaku (pelaku di bawah umur), pihaknya melakukan patroli cyber sosial media.
Diberitakan sebelumnya, bahwa kedua orang tua korban sempat mendatangi Polres Tarakan untuk melapor bahwa anaknya menjadi korban pengeroyokan tersebut.
“Karena TKPnya berada di lapangan itu, kami meluncur ke TKP dan ternyata berdasarkan hasil penyelidikannya, perkaranya akibat supporter pertandingan futsal antar dua Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Tarakan,” bebernya, Senin (22/8/2022).
Farhan melanjutkan, berdasarkan keterangan saksi sebelum pengeroyokan terjadi, salah satu SMP tersebut, SMP X (disamarkan) melakukan selebrasi di hadapan SMP Y (disamarkan) yang akhirnya memancing emosi. Selanjutnya, setelah pertandingan usai, SMP Y menunggu di depan pintu lapangan tersebut dan salah satu pelaku mengatakan “kau kah yang boro-boro di lapangan?”
“Jadi teriakan itu dilontarkan kepada korban dan korban belum menjawab, lalu pelaku melayangkan pukulan dan tendangan seperti yang digambarkan video yang viral itu. Berdasarkan keterangan saksi dan korban, didapatilah belasan pelaku dari SMP Y,” lanjut Farhan.
Pihak kepolisian juga telah berkoordinasi dengan guru-guru serta kepala sekolah terkait. Para pelaku terdapat 14 orang yang saat diperiksa juga didampingi oleh orang tua masing-masing.
Pasal 170 ayat 1 KUHP subsider Pasal 80 Ayat 1 UU Nomor 35 tahun 2014. Atas kejadian ini, diamankan pula beberapa lembar pakaian yang digunakan para pelaku saat kejadian.
“Benda tumpul juga ada diamankan yaitu sebuah helm berwarna pink,” sebutnya.
Saat ini, keempat belas pelaku tersebut tidak ditahan karena masih berada di bawah umur kisaran 12 hingga 13 tahun. Dikatakan Farhan, bahwa kasus ini akan melibatkan lembaga eksternal untuk penelitian masyarakat karena tergolong diversi.
Korban pun saat ini sudah mulai dapat beraktivitas normal meski sempat mengalami luka di bagian kepala.
“Untuk pencegahan ke depan, kami juga lakukan tindakan preventif ke orang tua dan guru untuk lebih melakukan pengawasan ke anak. Kami tidak melarang untuk adanya pertandingan futsal, tapi sportifitas tetap harus dijunjung tinggi, jangan sampai satu orang bisa bikin konflik,” tutupnya. (*)
Reporter: Endah Agustina
Editor: Matthew Gregori Nusa







