oleh

Jemaah Haji Asal Sebengkok Tiba dengan Selamat, Disambut Meriah dengan Tradisi 

benuanta.co.id, TARAKAN – Sebanyak 68 jemaah haji di Kalimantan Utara (Kaltara) tiba pada Sabtu, 13 Agustus 2022. Puluhan jemaah haji ini berasal dari masing- masing kabupaten/kota di Kaltara.

Kedatangan jemaah haji ini disambut langsung oleh Pemerintah Kota Tarakan di Bandar Udara Internasional Juwata Tarakan sekitar pukul 11.20, setelahnya rombongan haji langsung diarahkan ke Masjid Islamic Centre Kota Tarakan guna mendapatkan pengarahan sebelum akhirnya pulang bersama keluarga.

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Tarakan, Tarmizi mengucapkan selamat atas kedatangan para jemaah haji yang telah kembali dari perjalanan panjang di tanah suci.

“Kedatangan mereka telah dinanti-nantikan oleh sanak saudara, keluarga, kerabat, dan masyarakat Tarakan pada umumnya, Insyaallah ibadah haji yang dilakukan dapat menjadi haji yang makbul,” jelasnya, Sabtu (13/8/2022)

Ia menerangkan bahwa selama berada di tanah suci, keseluruhan jemaah haji telah menjaga kekompakan dalam melaksanakan ibadah. Ia juga berpesan bahwa menunaikan ibadah haji tidak hanya untuk mendapatkan gelar haji di depan nama mereka seperti menjadi panutan untuk masyarakat lainnya.

“Harus lebih dari itu, makbulnya haji harus kita pertahankan. Di Tarakan ini wadah haji juga dijadikan sebagai tempat silaturahmi dan bertukar pikiran,” sebutnya.

Terpisah, salah satu keluarga jemaah haji, Yahya Zein menuturkan bahwa pihaknya menyambut hangat keluarga yang datang dari jemaah haji. Terdapat pula tradisi dalam penyambutan jemaah haji ini.

Berdasarkan pantauan benuanta.co.id di lapangan, jemaah haji yang baru pulang di arak keliling dengan menunggangi kuda-kudaan lengkap dengan iringan musik.

“Ya saya kira ini tradisi di Sebengkok memang, setiap jemaah haji yang datang itu kita sambut dengan rasa syukur, karena memang haji itu perjuangan yang luar biasa dan tidak membutuhkan waktu yang sedikit,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa tradisi ini sebagai bentuk syukur salah satu warga yang pulang dari berhaji. Adapun filosofi dari kuda-kudaan berwarna putih yang ditunggangi bukanlah bermakna apa-apa.

“Waktu itu juga ada yang unta, ini inisiatif saja dari teman-teman, kalau warna putih ciri khas Indonesialah, persiapannya 3 harian untuk penyambutan ini dan ini spontan saja,” bebernya.

Tradisi ini juga biasanya dilakukan kepada jemaah haji yang memiliki keturunan Arab Saudi. Setelah tradisi arak ini, penyambutan dilanjutkan dengan pembacaan doa dan makan bersama.

“Untuk tahun ini rata-rata jemaah haji asal Sebengkok kita pasti lakukan ini, kawinan juga biasanya. Intinya acara yang biasanya dinilai sakral, ya rasa syukurlah,” tutupnya. (*)

Reporter: Endah Agustina
Editor: Ramli

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

10 − 5 =