oleh

Pariwisata di Sulsel Lesu? Imbas Naiknya Harga Tiket Pesawat

benuanta.co.id, Makassar – Sektor pariwisata di Sulsel kembali lesu. Meski sempat bangkit usai dihantam pandemi Covid-19. Itu disebabkan harga tiket pesawat yang mulai mengalami kenaikan. Di mana sejauh ini, sektor pariwisata di Sulsel masih ketergantungan terhadap moda transportasi udara.

Berdasarkan data dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Sulsel bahwa tren positif usai pandemi, wisatawan domestik medio Januari -Juli 2022 naik 50,33 persen, dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Anggota Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Sulsel, Bambang Haryanto menyebutkan, kenaikan harga tiket pesawat disebabkan karena kenaikan harga bahan bakarnya.

“Harga avtur yang naik hampir dua kali lipat, 70 persen. Inilah, karena kemarin itu tarif batas atas kan tidak boleh dinaikkan, akhirnya bahan bakarnya lah yang (pemerintah) kita naikkan,” ungkap Bambang di Makassar, Kamis, (12/8).

Meski begitu, kata Bambang, bakal ada kebijakan revisi tarif batas atas, bahwa informasinya akan dinaikkan. “Tapi SK-nya belum keluar,” sebutnya.

Penyebab lain kenaikan tiket, kata Bambang, karena keterbatasan armada pesawat di sejumlah maskapai di Indonesia.

“Kemudian penyebab lain adalah setelah krisis pandemi ini, banyak armada yang dikembalikan ke tempat mereka sewa. Sehingga kita kekurangan armada,” terangnya sembari menambahkan, sehingga sisi demand tidak berimbang dengan sisi supply.

Kemudian, kata dia, kendala dari sisi maintenance pesawat di berbagai maskapai. “Kedua adalah beberapa pesawat di Indonesia itu mengalami maintenance, sehingga butuh biaya yang tidak kecil,” jelasnya.

Menurut Sekretaris Dinas Budpar Sulsel, Devo Khaddafi, fenomena kenaikan harga tiket ini otomatis berpengaruh besar pada kunjungan wisatawan.

“Yang pasti kami kembali berkoordinasi dengan stakeholder pariwisata yang ada di Sulawesi Selatan, untuk kita bisa mencari strategi baru,” katanya.

Menurut Devo, pihaknya akan berkoordinasi dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA), sebagai langkah menggenjot wisawatan di Sulsel.

“Kami dari pemerintah akan mensupport untuk memperbanyak event, dan kemudian mungkin saja dari PHRI akan memberikan supporting, dalam bentuk pemberian harga yang sangat di bawah. Kemudian dari ASITA akan memberikan paket-paket yang murah. Intinya seperti begitu,” terang Devo.

Pihaknya, lanjut Devo, akan melobi side event G-20 yang tengah berlangsung di Indonesia. “Tadi saya dapat informasi bahwa memungkinkan kegiatan-kegiatan G-20 yang di Bali itu, mungkinkah dibawa satu atau dua kesini. Jangan di Jogja terus dan di Surabaya, bawalah kesini (di Sulsel,red) ” harapnya.

Tak hanya itu, kata Devo, untuk membangkitkan pariwisata di Sulsel di tengah kenaikan harga tiket, pihaknya akan menjalin komunikasi dengan perusahaan-perusahaan maskapai penerbangan untuk ikut sumbangsih.

“Kami juga akan berbicara dengan teman-teman airlines. Seperti apa kira-kira sumbangsih yang bisa diberikan dari teman-teman airlines yang ada di Sulsel,” tukasnya.

Menurut Devo, kecil kemungkinan pemerintah memberikan subsidi langsung kepada penumpang pesawat. “Tapi mungkin seperti yang kita lakukan kemarin, bapak Gubernur Sulsel memberikan subsidi penerbangan ke Toraja. Itukan bagian dari mentriger kembali penerbangan ke Toraja,” ujarnya.

Sementara, Ketua DPD Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia atau Association Of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA), Didi Leonardo Manaba mengatakan, tiket pesawat menjadi salah satu komponen jualan yang paling penting di bisnis tour & travel.

“Sebelum dipaketkan di paket tour, tiket adalah komponen yang paling penting untuk di keseluruhan paket yang kita jual. Jadi kalau tiket tinggi, setelah masuk dalam paket (tour), harga paket itu gemuk. Jadi salah satu komponen paling penting adalah tiket,” katanya kepada wartawan.

Bertahan di tengah kondisi tingginya harga tiket, lanjut Didi, pihaknya harus putar otak terkait harga paket tour tetap ekonomis dan wajar. Di samping itu bermohon kebijakan dari pemerintah.

“Selain kita menyuarakan ke pemerintah, terpaksa kita me-reduce dari sisi paket. Paket kita turunkan agar mereka sedikit turun dari harga yang tidak reasonable. Kalau memang mau dipaketkan secara keseluruhan itu tinggi, jadi terpaksa begitu,” tandasnya.(*)

Penulis: Akbar

Editor: Ramli

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

five + 2 =