Digeruduk Mahasiwa, Manager PLN UP3 Kaltara: Mohon Maaf Kami Lalai

benuanta.co.id, TARAKAN – PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Tarakan mendapatkan sorotan dari Aliansi BEM Bersatu yang dimotori oleh puluhan mahasiswa. Puluhan mahasiswa ini mendatangi kantor PLN Tarakan dalam aksi damai, sekaligus membawa poin tuntutan. Salah satunya evaluasi keterbukaan ke ruang publik.

Diketahui pada bulan Juli 2022 lalu, Kota Tarakan dihadapkan dengan pemadaman lampu bergilir akibat suplai gas yang kurang.

Manager PLN UP3 Kaltara, Aditya Darmawan, menjelaskan pihaknya selalu memberikan pelayanan yang maksimal ke pelanggan. Namun, dalam memberikan pelayanan yang maksimal tentu terdapat proses yang harus dilalui pihaknya.

“Tadi juga sudah terjawab semua, kalau pemadaman itu ada dua sebabnya, satu karena pemeliharaan satu karena gangguan, kalau gangguan itu tidak bisa kami prediksi dan itu sudah kami sampaikan,” jelas Aditya Darmawan saat ditemui benuanta.co.id, usai aksi digelar, Jumat (12/8/2022).

Pada pemeliharaan sendiri, pihaknya selalu memberikan informasi terlebih dulu jika harus melakukan pemadaman.

“Dari PLN mobile juga sudah ada notifikasi,” sebutnya.

Disinggung soal kompensasi yang akan pihaknya berikan ke pelanggan, ia menuturkan mekanisme kompensasi ini akan secara otomatis terakomodir pada sistem. Artinya, pelanggan yang sudah terdampak di atas Tingkat Mutu Pelayanan (TMP) akan diusulkan dan diverifikasi oleh Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (DJK).

Baca Juga :  Polres Tarakan Beri Dukungan Kontingen Porwanas XIII Malang

“Nanti kalau ada yang diapprove atau tidak itu sesuai dengan evaluasi TMP, kalau melebihi TMP akan diberikan kompensasi berupa pengurangan tagihan listrik,” bebernya.

Kompensasi itu nantinya akan diberikan pada tagihan di bulan September jika ada tagihan yang lolos verifikasi. Adapun besaran kompensasi ini telah diatur, dengan sistematika penghitungan. Misalnya pemadaman 2 jam di atas TMP Kaltara yaitu 7 jam maka 20 persen dari rekening minimum akan diberikan kompensasi.

“Itu yang akan masuk ke token listrik atau pengurang tagihan di bulan September untuk pelanggan yang terdampak pemadaman,” tukasnya.

Ia juga menjelaskan permasalahan digeruduknya PT PLN Tarakan oleh Aliansi BEM Bersatu ini salah satunya yaitu permintaan audiensi yang diminta mahasiswa tidak diindahkan. Namun, itu hanyalah masalah teknis dan kesalahpahaman.

“Petisi kita sudah tanda tangani, mereka pernah mengirimkan surat ke sini (PT. PLN Tarakan) tapi saya tugas di Tanjung Selor dan kemudian manager yang di sini pada saat itu berduka dan baru menjabat, kami mohon maaf itu juga merupakan kelalaian kami,” tandasnya.

Baca Juga :  BPBD Tarakan Ajak Kolaborasi 5 Unsur Stakeholder Upaya Mitigasi Bencana Alam

Terpisah, Presiden Mahasiswa BEM Universitas Borneo Tarakan, Ainulyansyah Nurdin S yang didampingi Wakil Presma BEM UBT Fransisko Lien beserta Koordinator Aksi, menuntut tiga poin utama kepada pihak PLN.

Pertama, mengenai realisasi Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan dan Peraturan Menteri Energi Sumber Daya Mineral Nomor 18 Tahun 2019, kemudian evaluasi keterbukaan publik serta evaluasi pelayanan publik.

“Sampai saat ini, masih banyak kendala-kendala pihak PLN dan masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2020, Tarakan mendapat julukan Kota seribu cafe, tentu dengan tidak baiknya kinerja PLN sehingga merugikan masyarakat,” terang Ainul kepada benuanta.co.id, usai menggelar aksi Jumat sore (12/8/2022).

Silih berganti, mahasiswa yang tergabung dari BEM UBT, BEM Fakultas Hukum UBT, BEM Fakultas Ekonomi UBT dan BEM Nusantara menyampaikan orasinya di depan gerbang kantor PLN yang dikawal penuh oleh personel Polres Tarakan.

Arak-arakan masa pun dilakukan Aliansi BEM Bersatu sembari menyanyikan lagu-lagu perjuangan kemahasiswaan. Meski demikian, aksi ini berjalan dengan lancar dan kondusif. Hasil dan kesepakatan para demonstran dengan pihak PLN menemukan titik temu.

“Kami Aliansi BEM Bersatu, bersama mahasiswa se-Kota Tarakan menuntut bagaimana pelayanan PLN benar-benar baik dan sesuai kualitasnya dengan apa yang diatur dalam UU Nomor 30 Tahun 2009,” tambah mahasiswa Fakultas Teknik UBT itu.

Baca Juga :  Kurangnya Suplai Sapi Pengaruhi Peredaran Daging Ilegal

Diakhiri dengan penandatanganan poin-poin kesepakatan, aliansi BEM yang berjumlah sekitar 70 hingga 100 masa ini mendorong pihak PLN komitmen membenahi kinerjanya.

“Hasil aksi kami hari ini, pihak PLN Tarakan telah berkomitmen menyelesaikan secara keseluruhan persoalan listrik yang ada di Tarakan,” ucapnya.

“Sebagai bentuk dari pada komitmen itu, kita bersama PLN menandatangani petisi aksi sebagai bukti fisik, kalau ada nanti kedepannya masih terjadi lagi, maka secara bersama kita benahi,” beber dia.

Mengenai kompensasi pemadaman listrik dari pihak PLN, hal tersebut bakal diberikan kepada masyarakat Tarakan. “Disampaikan PLN UP3 Kaltara terkait pemadaman listrik yang terjadi, nantinya kompensasi akan dihitung pada bulan September. Kita berharap kepada seluruh masyarakat Tarakan untuk memperhatikan hal ini,” kata Ainul.

“Jangan sampai apa yang menjadi hak kita, itu tidak diberikan. Jangan sampai apa yang menjadi kewajiban pihak PLN itu tidak diberikan. Untuk besaran kompensasi, itu diatur oleh sistem,” tutup Presma BEM UBT. (*)

Reporter : Endah Agustina/Kristianto Triwibowo

Editor: Yogi Wibawa/Matthew Gregori Nusa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

20 + 2 =