oleh

Tiga Dewan Sulsel dari Fraksi Gerindra Potensi Maju Kada

benuanta.co.id, MAKASSAR – Meski perhelatan kontestasi politik terhitung 18 bulan lagi, namun sejumlah anggota DPRD Sulsel periode 2019-2024 digadang-gadang bakal meramaikan bursa pencalonan pemilihan Kepala Daerah (Kada).

Khusus dari fraksi Gerindra di DPRD Sulsel, ada tiga nama yang mengemuka bakal mencalonkan Kada di daerah pemilihannya masing-masing. Nama-nama tersebut antara lain, Darmawangsyah Muin, Andi Mangunsidi dan Rusdin Tabi.

Darmawangsyah Muin merupakan legislator DPRD Sulsel dua periode dari daerah pemilihan Sulsel III yang meliputi Gowa-Takalar. Perolehan suaranya mencapai 39.834 ribu pada periode keduanya.

Adapun basis pemilih Darmawangsyah Muin berpusat di Kabupaten Gowa. Pada Pilkada Gowa 2024, Darmawangsyah telah memantapkan langkahnya untuk bertarung di Gowa, diapun telah mengusung tagline ‘Gowa Berua’.

Begitupun Andi Mangunsidi, legislator dua periode di DPRD Sulsel ini juga digadang-gadang memiliki kans besar untuk maju di Pilkada Bone. Pada periode keduanya di DPRD Sulsel melalui Dapil VII Sulsel meliputi Kabupaten Bone, dia mengantongi perolehan suara 16.096 ribu.

Selanjutnya Rusdi Tabi. Dirinya terpilih dua periode di DPRD Sulsel melalui dapil IX yang meliputi Kabupaten Sidrap, Enrekang dan Pinrang dengan mengantongi 20.147 suara pada periode keduanya.

Adapun basis pemilih Rusdin Tabi berpusat di Enrekang. Sehingga dia juga digadang-gadang bakal meramaikan kontestasi pemilihan kada Enrekang 2024 nanti.

Sebelumnya, Ketua DPD Gerindra Sulsel, Andi Iwan Darmawan Aras (AIA) mengatakan, pihaknya lebih dulu aktif melakukan konsolidasi internal. Langkah  tersebut untuk mengoptimalkan kerja-kerja mesin partai, baik di Pemilihan Presiden (Pilpres), Pemilihan Legislatif (Pileg) hingga Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang dihelat di tahun yang sama.

“Sebelum kita balapan, persiapan pembalapnya ini.  Persiapan timnya untuk mendapatkan output yang maksimal. Kami fokus itu dulu sekarang, pembenahannya. Agar mesin partai kami, betul – betul militan dan loyal hingga tingkatan terendah. Tingkatan TPS (Tempat Pemungutan Suara),” katanya.

Wakil Ketua Komisi V DPR RI ini juga mendorong para kader Gerindra Sulsel yang berkeinginan bertarung di Pilkada, agar mengikuti kontestasi Pemilihan Legislatif lebih dulu.

Tujuannya, kata dia, dengan metode tersebut setiap kader memiliki kontribusi dalam membantu meningkatkan capaian suara partai. Serta mengukur kekuatan keterpilihan dengan tim yang dimiliki, di luar dari mesin partai.

“Selain meningkatkan capaian suara partai sekaligus mengukur keterpilihan yang rencana kami usung di proses Pilkada. Sekaligus buat yang bersangkutan menguji mesin organiknya di luar mesin partai. Kami tidak mewajibkan, tapi kami menyarankan kader-kader kami tes on the world sebelum memasuki langkah selanjutnya, ” dorong AIA.

AIA menyarankan, kader Gerindra yang berkeinginan maju di kontestasi Pemilihan Kepala Daerah untuk lebih dulu mengukur kekuatan di Pileg. Tujuannya, selain menambah capaian suara partai, juga  menakar tingkat elektoral secara personal.

“Walaupun kita sama-sama memahami proses Pilkada dan Pileg berbeda. Tetapi, prinsipnya jika orang disukai dan elektoralnya bagus. di Pilkada atau Pileg sama saja, ” tukasnya.

Apalagi kata AIA, jarak Pileg dan Pilkada  hanya sembilan bulan. Sehingga dalam rentan waktu tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi kerja-kerja tim dan mengukur kekuatan. Serta menjadikan barometer hasil Pileg untuk menatap Pilkada.

“Jadi ada tiga potensi yang muncul di situ, pertama menambah suara partai, kedua melihat tingkat elektoral, ketiga melihat efesiensi dan efektivitas kerja tim yang mereka bangun. Tidak ada ruginya bagi teman-teman yang memiliki potensi lebih. Khususnya dari sisi finansial,” urainya.

Sementara Manajer Strategi dan Operasional Jaringan Suara Indonesia (JSI), Nursandy Syam menilai figur anggota legislatif di DPRD Sulsel tergolong cukup potensial sebagai calon kepala daerah.

Kendati, kata dia, anggota legislatif punya pola interaksi yang cukup intens dengan basis konstituennya. Sehingga agenda temu konstituen mempermudah  dalam membangun hubungan yang lebih dekat dengan warga.

“Modal itu yang bisa dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan ke masyarakat,” katanya.

Namun diungkapkan Nursandy, Pilkada dan Pileg otomatis berbeda. Perlu mempertimbangkan banyak hal, mulai kompetensi hingga finansial.

“Pilkada berbeda dengan Pileg, tak sekedar motivasi naik kelas saja. Perlu mempertimbangkan banyak hal. Misalnya kompetensi, mental bertarung dan sumber daya ekonomi,” imbuhnya. (*)

Reporter: Akbar

Editor: Matthew Gregori Nusa

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

nineteen − fourteen =