oleh

Nunukan Fashion Week, Indikasi Ada Pengaruh LGBT akan Dibubarkan Polisi

benuanta.co.id, NUNUKAN – Rencana Nunukan Fashion Week (NFW) digelar di Nunukan menuai pro dan kontra dikalangan masyarakat Nunukan, terutama melalui sosial media.

Kabid Pemuda dan Olahraga, Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Nunukan, Hj. Rina Dwi Julianti mengadakan polling suara secara online di Group Facebook Peduli Nunukan terkait setuju dan tidak disetujui dengan diadakannya NFW.

Dalam posting tersebut cukup mendapatkan perhatian banyak dari warganet dari data per Kamis, 4 Agustus terlihat 189 suara menyetujui untuk diadakan Nunukan Fashion Week, 170 suara menyatakan tidak setuju dan 40 suara menyatakan tidak tahu.

Sementara itu, dari komentar warganet dapat dilihat komentar yang menyatakan tidak setujui untuk diadakannya Nunukan Fashion Week, komentar warganet cukup beragam, ada yang mengatakan tidak setuju karena sarana untuk menebar aurat, ada juga yang berkomentar kecuali di adakan bukan di jalanan, karena jika di jalanan umum dapat menyebabkan kemacetan.

“Buat apa ikutan, cuma buat hancur warga Nunukan saja, buang-buang waktu,” ujar Sain Setya di kolom komentar.

Menanggapi hal tersebut, Kabid Pemuda dan Olahraga, Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Nunukan, Hj. Rina Dwi Julianti mengatakan Nunukan Fashion Week terinspirasi dari adanya Citayam Fashion Week. Namun Rina mengatakan, untuk pelaksanaannya ada beberapa hal yang jauh berbeda dari Citayam Fashion Week.

“Kegiatan ini hanya kita peruntukan sebagai sarana pengembangan untuk kreativitas di bidang fashion, baik para model, designer dan produk-produk lokal,” ujar Rina kepada benuanta.co.id, Kamis, (4/8/2022).

Rina mengatakan, pihaknya tidak mewadahi orang-orang yang memiliki perilaku menyimpang seperti perilaku LGBT. Diperbolehkan menggunakan pakaian yang unik, namun pada harus sesuai pada tempatnya bisa di tampilkan di area publik.

“Memang siapa saja boleh jalan di situ, karena Nunukan Fashion Week milik kita tapi saat ada laki-laki yang bergaya seperti wanita jalan berlenggak lenggok, kami berhak menolak anda karena kami tidak mengakomodir perilaku menyimpang, “ungkapnya.

Rina menegaskan bahwa tidak memfasilitasi terkait hal tersebut dan hanya mewadahi anak muda, dijelaskannya Nunukan mempunyai desainer namun untuk membuat suatu peragaan busana memerlukan dana yang besar, sehingga dengan adanya Nunukan Fashion Week bisa jadikan wadah untuk menampilkan hasil desain mereka.

Kasi Humas Polres Nunukan, IPTU Siswati mengatakan terkait kegiatan Nunukan Fashion Week, Polres Nunukan masih menunggu dari pihak panitia pelaksana untuk melengkapi berkas administrasi.

“Panitia juga nantinya harus bersedia menanda tangani surat pernyataan yang berisikan “sanggup untuk tidak adanya pengaruh terkait LGBT dalam kegiatan tersebut,” ujar Siswati.

Siswati menjelaskan, apabila nantinya kegiatan tersebut terindikasi ada pengaruh LGBT maka panitia harus bersedia jika kegiatan tersebut dibubarkan, namun apabila tidak bersedia dibubarkan maka akan ditindaklanjuti sesuai dengan peraturan perundang-undang yang berlaku.

Selain itu, pihak panitia yang bersangkutan dalam kegiatan Nunukan Fashion Week tersebut harus mengajukan registrasi kegiatan kepada masyarakat secara umum dan disertai surat pernyataan yang ditanda tangani.

“Jadi penandatanganan tersebut akan disaksikan oleh tokoh agama, tokoh Adat, Camat, Kepala Desa termasuk juga MUI untuk sama-sama menjaga kegiatan tersebut.” jelasnya.

Setelah semuanya terpenuhi barulah pihak Polres Nunukan akan melakukan koordinasi dengan SatLantas terkait pengamanan jalan dan Bag Ops terkait personil pengamanan. (*)

Reporter : Novita A.K

Editor : Ramli

Klik link Video di Bawah👇

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

2 × four =