benuanta.co.id, TARAKAN – Penyakit cacar monyet telah ditetapkan sebagai global healthy emergency oleh Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) pada 23 Juli 2022 lalu. Sedangkan di Indonesia sendiri telah dipaparkan oleh Kementrian Kesehatan pada 27 Juli 2022 lalu.
Kepala Bidamg Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kalimantan Utara, Yuan Erenst Sukawatie, SKM, M.Si mengatakan kasus ini belum terkonfirmasi di Indonesia.
“Indonesia sampai sekarang belum ada kasus positif cacar monyet. Tapi kita wajib waspada karena negara yang dekat dengan Indonesia itu ada yang ditemukan kasus cacar monyet,” katanya, Rabu (3/8/2022).
Negara tetangga seperti Singapura, terdapat 8 kasus konfirmasi positif cacar monyet. Sedangkan Australia terdapat 41 kasus aktif cacar monyet. Melihat data tersebut Indonesia berstatus waspada, sebab adanya negara sekitar Indonesia yang terkonfirmasi cacar monyet.
“Kalau diklasifikasikan, Indonesia masih dalam klasifikasi 1, karena WHO ada membuat 4 kelompok negara berdasarkan kasus. Kalau yang masuk klasifikasi 1 itu adalah negara yang belum melaporkan kasus cacar monyet atau negara yang pernah melaporkan, namun tidak melaporkannya selama 21 hari terakhir karena suspek atau probable namun setelah dikonfirmasi hasil PCRnya negatif,” urainya.
Dilanjutkan Yuan, untuk negara urutan klasifikasi 2 merupakan negara yang sudah mengalami kasus impor dan terjadi transmisi dari manusia ke manusia. Klasifikasi 3 merupakan negara yang mengalami transmisi antara monyet dan manusia. Klasifikasi 4 yakni negara yang memiliki kapasitas produksi untuk diagnosis, vaksin dan terapi.
“Dari 4 klasifikasi ini, Indonesia ada diurutan 1,” sebutnya.
Adapun gejala suspek bagi penderita cacar monyet memiliki ruam pada kulit, ditandai sakit kepala, demam di atas 38 derajat dan sakit flu. Sedangkan probable, jika seseorang usai berpergian dari negara yang memiliki kasus terkonfirmasi cacar monyet.
Cara penularan cacar monyet dijelaskan Yuan berasal dari virus yang penularannya seperti Covid-19 yakni melalui udara.
“Cepat atau nggak penyebarannya tergantung daya imun kita. Secara teori, bisa juga lewat kontak langsung seperti darah, cairan tubuh sementara dari pernapasan itu jika dalam waktu lama ya penularannya bisa seperti covid-19 juga,” pungkasnya. (*)
Reporter : Endah Agustina
Editor: Yogi Wibawa







