oleh

Hasbudi Sempat Minta Pindah ke Lapas Tarakan, Kejari Tegaskan Tak Ada Hak Istimewa

benuanta.co.id, BULUNGAN – Setelah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Bulungan, penahanan Briptu Hasbudi tetap dilakukan di Rumah Tahanan (Rutan) Polres Bulungan. Begitu juga saat Kejari Bulungan melimpahkan kepada Pengadilan Negeri (PN) Tanjung Selor, penahanan tetap berlanjut di Rutan Polres Bulungan.

Kasi Pidum Kejari Bulungan, Muhammad Sulaiman Mae mengatakan penahanan itu dilakukan agar proses persidangan tetap bisa berjalan lancar dan sesuai dengan waktunya. Adapun adanya permintaan dari terdakwa untuk ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Tarakan, tidak dapat diamini oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

“Semua hak-hak terdakwa itu semua sudah terpenuhi. Kalau dia meminta ke lapas, apakah di sana juga bebas maksudnya kalau berbicara soal aturan, kan ditahan juga,” ucap kepada benuanta.co.id, kemarin.

Jika alasannya akan dekat dengan keluarganya, dia mengatakan pihak keluarga terdakwa juga tidak bisa bebas melakukan kunjungan dan menjenguknya.

“Kalau begitu akan menjadi tanda tanya besar, kalau tetap ngotot tetap ke lapas. Kalau di sini kan Polri bisa melakukan pembuktian yang lain,” paparnya.

Dia mengatakan, jika lokasi kejadian ada di Bulungan, maka untuk penanganan perkara sudah seharusnya dilakukan di Bulungan. Apalagi keberadaan Polda Kaltara juga ada di Bulungan, maka dengan mudah melakukan pemeriksaan dan penyidikan.

“Alasan Polda Kaltara juga kuat, daripada dia mondar mandir ke Tarakan, disini juga lancar,” bebernya.

Hal itu senada dengan pernyataan Kapolres Bulungan AKBP Ronaldo Maradona T.P.P Siregar jika penahanan tersangka dan terdakwa yang dititipkan di Rutan Polres Bulungan tidak ada satupun yang mendapatkan hal istimewa. Semua perlakuan sama dalam mendapatkan haknya.

“Soal jatah makan dan sebagainya itu tidak pernah ada yang terlambat. Terlambat saat versi kalian  menjalani proses penahanan dengan diluar itu berbeda,” tuturnya.

Mantan Kasat Resnarkoba Polres Metro Jakarta Barat ini menyebutkan saat seseorang memasuki rutan, maka prosedur yang berlaku di dalamnya diatur semuanya.

Pihaknya meminta jangan ada perbandingan ketika sudah di rutan dengan orang bebas diluar dari masalah hukum, tentunya mempunyai perbedaan yang besar.

“Jangan dibandingkan, jadi hak-hak tahanan itu ada aturannya. Tidak ada satupun kami langgar itu prosesnya. Kalau ada yang bilang kita tidak kasih makan, saya akan mengambil langkah-langkah,” ujar Ronaldo.

Pasalnya anggaran yang diberikan dan sesuai aturan hanya 2 kali makan saja, yakni pukul 11.00 hingga 12.00 dan kedua pukul 17.00 hingga 18.00. Begitu juga saat ada tahanan yang sakit sesuai prosedur akan diberikan pelayanan pemeriksaan.

“Untuk Hasbudi sendirikan statusnya di sini itu dititipkan. Di sini yang berjalan itu justru sesuai dengan aturan-aturan,” terangnya.

Bahkan penggunaan alat komunikasi seperti handphone tidak dibenarkan di rutan tersebut. Tidak ada pelarangan bagi tahanan dan terdakwa untuk bertemu dengan keluarganya ataupun penasihat hukumnya, hanya saja diatur.

“Siapa bilang tidak bisa ketemu, itu bisa ketemu tapikan tidak bisa setiap saat dan tidak bisa berjam-jam lamanya itu ada batasnya. Dikunjungi keluarga, itupun tidak 24 jam di sini, yang ada hanya jam besuk dan kita atur waktunya. Dalam seminggu itu hanya 2 kali, yakni di hari Selasa dan Kamis,” pungkasnya. (*)

Reporter: Heri Muliadi

Editor: Matthew Gregori Nusa

Klik link Video di Bawah👇

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

one × two =