benuanta.co.id, TARAKAN – Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi mengalami kenaikan. Hal ini dilakukan seiring dengan tren harga minyak dunia yang belum kunjung menurun.
Area Manager Communication, Relation & CSR Regional Kalimantan, Susanto August Satria membenarkan hal tersebut. Adapun kenaikan BBM non subsidi ini pada jenis Pertamax Turbo dan Pertamax Dexlite.
Sebelum kenaikan, dikatakan Satria harga Pertamax Turbo Rp 14.800 namun setelah penyesuaian menjadi Rp 16.550. Begitupun dengan Pertamax Dexlite sebelum kenaikan Rp 13.250 menjadi Rp 15.350.
“Yang Pertamina Dex juga begitu dari Rp. 14.000 menjadi Rp 16.850, ini hanya untuk yang non subsidi yang mengalami kenaikan sedangkan untuk yang subsidi masih sama,” jelasnya, Senin (18/7/2022)
Untuk harga BBM subsidi sendiri dilanjutkan Satria Pertalite masih dengan harga Rp 7.850 perliter dan Solar Rp 5.150. Untuk harga LPG 3 kilogram juga masih sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET). Namun untuk harga LPG 5,5 hingga 12 kilogram mengalami kenaikan sebesar Rp 2.000.
Satria menerangkan, alasan pihak Pertamina melakukan penyesuaian harga dikarenakan terdapat konflik antar negara Ukraina dan Rusia.
“Kemudian harga minyak dunia trennya tinggi gitu, belum ada tren yang turun. Saat ini saja sudah menyentuh hampir berapa barel gitu, jadi Pertamina perlu menyesuaikan harga BBM non subsidi. Ini juga sudah sesuai ketentuan dari Pertamina,” bebernya.
Ia melanjutkan bahwa Indonesian Crude Price (ICP) menyentuh angka USD117,62 per barel. Angka ini lebih tinggi sekitar 37 persen dari harga ICP pada Januari 2022.
Sementara untuk gas saat ini sudah menyentuh USD725 per metrik ton.
“Harga minyak dunia dengan takaran ICP itu sudah 37 persen, gas juga sudah tinggi sekali makanua kita sesuaikan. Ya seperti kita tahulah beban subsidi tinggi, dan yang paling besar porsinya di non subsidi, ya saya pikir tidak terlalu berpengaruh di inflasi karena yang memakai orang yang mampu ya,” pungkasnya. (*)
Reporter: Endah Agustina
Editor: Matthew Gregori Nusa







