benuanta.co.id, NUNUKAN – Kasus stunting atau gagal tumbuh pada anak di bawah lima tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis menjadi kondisi yang tidak bisa dianggap sepele di Indonesia. Program-program penanggulangan stunting juga terus digalakkan pemerintah pusat hingga daerah.
Di Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan angka stunting mencapai 127 kasus atau mencapai 28,8 persen yang tersebar di 10 desa.
Camat Sembakung Ridwan, kepada benuanta.co.id, menyampaikan telah melibatkan berbagai pihak untuk menekan kasus stunting. Mulai dari Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) kecamatan, Puskesmas hingga pemerintah desa.
“Tujuannya angka stunting bisa dituntaskan di tahun ini, paling tidak dapat menurun 70 persen dari data yang ada,” kata Ridwan, Jumat (8/7/2022).
Melihat kebiasaan, lanjut Ridwan, anak-anak di Sembakung kurang mengkonsumsi makanan bergizi. Padahal wilayah tersebut memiliki hasil perikanan sungai yang berlimpah.
“Saat dikasih minum susu tidak mau, dikasih makan paling satu suap itu berpengaruh juga,” jelasnya.
Menurutnya, hal tersebut bukan disebabkan faktor ekonomi melainkan kebiasaan orang tua yang belum memahami pentingnya makanan sehat dan bergizi untuk anak.
“Makanan orang dewasa diberikan kepada anak kecil, sehingga itu membuat mereka tidak bernafsu makan lagi,” terangnya.
Menurunkan angka stunting yang tergolong tinggi, pihaknya juga memberikan edukasi secara masif kepada orang tua yang memiliki anak di bawah usia 2 tahun. Kemudian rutin melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap ibu hamil dan menyarankan mengkonsumsi makanan yang bergizi sehingga anaknya terhindar stunting.
Terpisah, Kepada Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan Nunukan, Sabaruddin menyebut dari 12.435 anak yang dilakukan pengukuran di perbatasan Indonesia-Malaysia, terdapat balita pendek dan sangat pendek sebanyak 2.030 anak atau sebesar 20,3 persen.
“Kita masih jauh dari target nasional, pekerjaan rumah kita adalah menurunkan angka stunting dengan lebih 2.000 anak ini. Apalagi target nasional membatasi jumlah kasus stunting tidak boleh melebihi 14 persen, tentunya ini membuat kita bekerja lebih keras,” tutup Sabaruddin. (*)
Reporter: Darmawan
Editor: Yogi Wibawa







