DKP Kaltara Tata Perairan Nunukan-Tarakan

benuanta.co.id, TARAKAN – Persoalan alur pelayaran perairan Nunukan dan Tarakan masih dengan masalah tertutup dengan budidaya rumput laut. Selain itu, berdasarkan hasil pembahasan juga terdapat ranjau di jalur tersebut.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltara, Rukhi Syayahdin mengatakan pihaknya telah melakukan beberapa upaya untuk penyelesaian masalah ini.

“Dimulai dari fokus dulu pada alur pelayaran, bulan Maret lalu juga sudah dilakukan rapat bersama pihak terkait untuk membahas permasalahan ini dan ada beberapa solusi yang akan kami buat,” katanya, Sabtu (2/7/2022)

Baca Juga :  Usulkan Anggaran Pilkada Rp 180 Miliar, KPU Kaltara Harap Rasionalisasi Tidak Turun Jauh

Solusi tersebut dikatakan Rukhi, di antaranya perairan di Sungai Mamolo, Muara Nunukan dan Tanjung Harapan akan dibuka untuk alur pelayaran. Termasuk Sungai Ular juga nantinya tidak ada lagi alur pelayaran tertutup.

“Karena menyangkut hajat hidup orang banyak juga yang menggunakan. Dampaknya sangat fatal,” sebutnya.

Ia juga menjelaskan sering kali terjadi pelanggaran perbatasan seperti di Sungai Ular atau di daerah berdekatan lain yang melakukan kegiatan pelayaran masuk ke wilayah Malaysia hingga akhirnya terjadi masalah.

“Itukan perairan kita, kok kita yang menyalahi aturan perairan sampai masuk ke wilayah Malaysia. Nah itu yang dimaksuk alur pelayaran tertutup,” jelasnya.

Baca Juga :  Belum Tamat SD di Kaltara Disumbangkan Generasi Baby Boomer

Rukhi menuturkan nantinya akan membuat surat edaran Gubernur. Saat ini DKP menunggu permasalahan alur perairan Tarakan dan Bunyu, lantaran adanya ranjau peninggalan perang dunia kedua.

“Gubernur Kaltara dan Ketua DPRD Kaltara memberikan respon positif terhadap penyelesaian permasalahan alur pelayaran ini. Dari hasil komunikasi secara lisan, Ketua DPRD menyampaikan hal yang berkenaan ranjau akan ditindaklanjuti pada pertemuan lain,” jelas Rukhi.

“Kita antisipasi supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, tapi pada sisi lain dari instansi terkait maupun masyarakat sudah sepakati untuk membuka alur pelayaran Tarakan dan Bunyu,” lanjutnya.

Baca Juga :  Tahapan Musprov III KONI Kaltara, Pengambilan Formulir Calon Ketua

Ia menyebut ranjau adalah permasalahan urgent karena berkaitan juga dengan hajat hidup orang banyak. Terutama wilayah pesisir yang memanfaatkan akses perairan laut.

“Di Nunukan sudah clear permasalahannya. Sekarang tinggal pemerintah dalam proses penambahan anggaran untuk mengadakan tanda di laut untuk bisa segera di pasang. Nanti dibuat seperti pelampung, jadi bisa bertahan lama,” pungkasnya. (*)

Reporter: Endah Agustina

Editor: Yogi Wibawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *