oleh

Saling Menguntungkan, KTH Senguyun Jalin Kerjasama dengan PT KMS

benuanta.co.id, BULUNGAN – Menjadi contoh dan pertama di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), salah satu Kelompok Tani Hutan (KTH) di Kabupaten Bulungan melakukan kerjasama dengan perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan dan kayu olahan.

Kerjasama itu dilaksanakan di kantor Bupati Bulungan, antara KTH Senguyun yang melakukan pengelolaan hasil hutan di wilayah Desa Sajau Kecamatan Tanjung Palas Timur dengan PT Kayan Makmur Sejahtera (KMS).

“Sudah kita saksikan kerjasama dengan penandatanganan MoU antaranya PT KMS dengan KTH Senguyun. Ini juga dapat dikatakan sejarah karena pertama kali dilakukan di Kaltara,” ucap Bupati Bulungan Syarwani kepada benuanta.co.id, Jumat 17 Juni 2022.

Dirinya pun menyambut baik adanya kerjasamaa kemitraan itu, antara perusahaan dengan kelompok tani sebagai bentuk sinergi dalam pengelolaan hasil hutan serta masyarakat yang berada di sekitar kawasan hutan yang memperoleh manfaat dari kawasan hutan.

“PT KMS memiliki wilayah kerja di Kabupaten Bulungan dengan luas areal sekitar 13.375 hektare berdasarkan Nomor SK 46/Menhut-II/2011 dengan fungsi kawasan Hutan Produksi Tetap (HP),” jelasnya.

Sementara untuk KTH Senguyun telah mengelola sekitar 223 hektare di kawasan HP dengan menanam padi ladang dan tanaman perkebunan. Dirinya berharap melalui kerjasama ini perusahaan dan kelompok tani dapat saling support dan terus bersinergi serta membawa kesejahteraan bagi masyarakat.

“Jadi isi kerjasama dalam jangka pendek setiap tahun meliputi penguatan kelembagaan, penataan areal kerja kemitraan, penyiapan lahan, pembibitan, persemaian, penanaman dan pengadaan sarana produksi,” sebutnya.

Selain itu, isi kerjasama itu memuat tentang pemeliharaan, perlindungan dan pengamanan hutan, pemanfaatan hasil hutan bukan kayu serta membangun dan memanfaatkan jasa lingkungan.

Kemudian pada jangka panjang 10 tahun antara lain pemanfaatan hasil hutan buka kayu seperti gaharu, madu, tumbuhan obat, rotan, bambu, minyak atsiri dan lain-lain.

“Lalu pengembangan agroforestry, pengembangan silvofishery, membangun hutan tanaman kayu seperti karet, kopi, durian, elai, kakao, duku, cempedak, petai, rambutan, kelengkeng, gaharu, kamiri, pala, jengkol dan tanaman hutan lainnya. Adapula pengolahan, distribusi dan pemasaran,” tuturnya.

Syarwani menyebutkan dalam kerjasama itu sendiri perusahaan memiliki kewajiban memperbaiki akses jalan atau trasportasi di area ijin usaha serta membayar penerimaan negara bukan pajak dari kegiatan kemitraan.

Sementara untuk proporsi bagi hasil dalam pengelolaan hasil hutan kayu dan non kayu yang dibiayai perusahaan PT KMS sebesar 80 persen dan KTH 20 persen, setelah dikurangi biaya produksi dan setoran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) kepada negara. Kemudian pengelolaan yang dibiayai KTH Senguyun dan sumber sah lainnya yang tidak mengikat.

“Proporsi bagi hasilnya 100 persen untuk KTH Senguyun setelah dikurangi setoran PNBP.

Sementara, pengelolaan yang dibiayai kedua belah pihak, pembagian hasil dari keuntungan bersih masing-masing mendapat 50 persen setelah dikurangi biaya produksi dan setoran PNBP,” pungkasnya. (*)

Reporter: Heri Muliadi

Editor : Yogi Wibawa

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

1 + thirteen =