oleh

Kasus Bom Ikan oleh Nelayan Asal Malaysia Masuki Tahap P21

benuanta.co.id, TARAKAN – Penangkapan ikan menggunakan bom masih terus terjadi di Perairan Ambalat Kabupaten Nunukan. Sebelumnya kasus serupa yang melibatkan WNA asal Malaysia telah ditangkap dan saat ini memasuki tahap P21 oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Nunukan.

Kepala Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Tarakan, Johanis Johniforus Medea menjelaskan sebelumnya telah melakukan penyidikan kegiatan penangkapan ikan menggunakan alat tangkap bom ikan yang dilakukan oknum warga Malaysia. Dari hasil penyidikan tersebut pihaknya mendapati beberapa alat bukti berupa detonator.

“Alat bukti berupa detonator atau alat picu peledak sudah kami proses, pada 9 Juni lalu sudah dinyatakan P21 dan akan kami komunikasikan lagi dengan Kejari Nunukan untuk pelaksanaan tahap 2,” ujarnya, Jumat (17/6/2022).

Adapun tersangka dari pengungkapan ini ada tiga orang yang merupakan WNA asal Malaysia. Sementara untuk, peran ketiganya dinilai sama, melakukan penangkapan ikan menggunakan bom ikan.

“Ada yang melempar, merakit hingga mengumpulkan hasil ikan yang sudah mati,” sebutnya.

Ketiga tersangka ini disangkakan Pasal 84 Undang undang No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, sebagaimana diubah UU No. 45 Tahun 2009. Ancaman pidananya yang diterima ketiga tersangka itu ialah 6 tahun penjara.

Johanis melanjutkan, ketiganya tertangkap di Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE). Namun berdasarkan peraturan perundang-undangan mengenai Perikanan, penangkapan ikan di ZEE tidak dapat dilakukan kurungan badan.

“Jadi, mungkin kita lihat lagi nanti putusan di Pengadilan. Dari tuntutan JPU, putusan di Pengadilan seperti apa. Menjadi kewenangan dari Pengadilan,” paparnya.

Atas kasus ini, Johanis menjelaskan bahwa akan melakukan koordinasi dengan pihak Malaysia. Termasuk klarifikasi dan menyampaikan notifikasi kepada pihak Malaysia.

“Mereka harus mengetahui hal itu (WNA Malaysia diproses pidana di Indonesia), apalagi terkait WNA tentunya. Kami akan komunikasi langsung dan melalui pemerintah pusat, Kementrian Kelautan dan Perikanan maupun Dirjen PSDKP untuk disampaikan ke Kementrian Luar Negeri dan menyampaikan ke Kedutaan besar mereka,” urai dia.

Terpisah, Kepala Seksi Pengawasan dan Penanganan Pelanggaran, Hamzah Kharisma menerangkan bahwa ketiga tersangka itu awalnya berangkat dari salah satu wilayah di Sampurna, Malaysia yang memang melalukan penangkapan ikan dengan bom di perairan Ambalat.

“Dekatnya jarak Sampurna dengan wilayah Indonesia membuat para nelayan Malaysia melakukan kegiatan penangkapan ikan di ZEE,” terang Hamzah.

Pada saat melakukan kegiatan tangkap ikan, tiga tersangka itu memang membawa dua botol berisi bahan bom menggunakan kapal 1 GT. Ia juga mengaku bahwa telah banyak informasi sejak tahu lalu bahwa kegiatan bon ikan ini sudah banyak disekitaran perairan Ambalat.

“Pagi hari, sudah diledakkan satu bom. Namun ternyata ikannya tidak ada. Selanjutnya ketiga tersangka dijemput dibawa ke Sampurna dan sisa satunya saat mau diledakkan, ketahuan dan tertangkap,” urai dia.

“Di sekitar Perairan Ambalat itu kan ada bagan, nah nelayan kita yang punya Bagan sering terganggu karena ditemukan banyak ikan mengapung dakam keadaan mati, diduga karena bom,” tandasnya. (*)

Reporter: Endah Agustina
Editor: Matthew Gregori Nusa

Klik link Video di Bawah👇

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

18 − three =