benuanta.co.id, TARAKAN – Kasus hepatitis akut kini mulai menghantui dunia medis di Indonesia. Pasalnya secara nasional kasus hepatitis terus bertambah menjadi 29 kasus dan 7 meninggal dunia.
Meski di Kalimantan Utara (Kaltara) belum terbentuk Satuan Tugas (Satgas) secara khusus menangani penyakit ini. Namun Satgas imunisasi secara umum telah diberdayakan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kaltara, Agus Suwandy menuturkan untuk membentuk suatu Satgas khusus hepatitis harus melihat tingkat penyebaran kasus yang terjadi di suatu wilayah.
“Membutuhkan proses panjang kemudian ada dasar untuk didirikan misalnya ketika kasus sudah menyebar cukup luas. Sekarang memang bertambah di Indonesia tapi sebagian status propable, masih terduga, discard begitu,” tutur Agust Suwandy, Selasa (7/6/2022).
Selama ini Dinas Kesehatan Kaltara juga terus mengeliatkan imunisasi rutin mencangkup vaksin hepatitis pada balita yang baru lahir.
“Jadi ada 4 kali pemberian vaksin hepatitis pada bayi selama 2 tahun, ini juga sebagai bentuk pencegahan. Terutama Hepatitis B dan C, kalau Hepatitis A sifatnya akut itu biasanya terjadi penularan secara tiba-tiba,” jelasnya.
Efektivitas Vaksin Hepatitis Dipertanyakan
Fenomena yang terjadi di Indonesia, dikatakan Agus merupakan hepatitis misterius dalam artian bisa menyebabkan kematian.
Sejauh penyakit hepatitis yang telah pihaknya tangani tidak pernah hingga menyebabkan kematian. Ia menyebut hal ini dicurigai sebagai adanya virus baru yang memiliki gejala sama dengan hepatitis.
“Nah ini kita belum tahu, apakah efektivitas vaksin yang sudah kita berikan ke bayi selama bertahun-tahun ini apakah masih efektif mencegah atau menangkal hepatitis baru ini,” sebutnya.
Bahkan Dinkes juga sempat mengirimkan sampel ke Penelitian dan Pengembangan (Litbang) pusat untuk mendeteksi apakah virus yang dimaksud varian hepatitis misterius.
Sampel tersebut berasal dari Kabupaten Malinau dan Bulungan. Setelah melalui proses panjang, akhirnya diketahui bahwa sampel yang dikirim tidak menunjukkan tanda-tanda hepatitis yang dimaksud.
“Di awal itu kita terima dari Malinau, itu kan ada alur yang harus dilalui dalam penetapan suspect atau terduga, pas diperiksa mengarah ke penyakit lain. Jadi kita tidak masukkan. Kedua itu di Bulungan, kita sempat kirim sampai ke pusat, di sana dinyatakan negatif atau discard,” bebernya.

Hepatitis lanjut Agust, sejatinya telah ada sejak dulu. Baik yang akut dan kronis, umumnya yang terjadi Hepatitis A dan B, C juga ada sebagian. Hanya saja selama ini sudah tertangani dengan baik.
“Yang dimaksud di sini kan yang baru yang dibilang akut dan misterius itu yang kita cari,” sambung Agus.
Prosedur dalam melakukan pengujian sampel hepatitis, akan tergantung dari kasus yang ditemukan. Semisal penemuan kasus di suatu daerah harus melalui uji sampel di laboratorium setempat. Pemeriksaan yang dilakukan pun mengambil sampel darah serta urin dari pasien terduga hepatitis misterius.
Tidak hanya mengambil sampel darah serta urin dari pasien, petugas juga akan mengambil sampel tes Covid sebelum mengirimkan sampel ke Litbang pusat.
“Kita cocokkan juga dengan kasus hepatitis yang kita tangani sebelumnya, kalau sama kita tidak akan kita teruskan ke pusat karena bukan termasuk hepatitis yang misterius tadi,” tutup Agus. (*)
Reporter : Endah Agustina
Editor : Yogi Wibawa







