Pemulihan Pembelajaran Butuh Kolaborasi

Tarakan – Hilangnya kemampuan belajar (learning loss) menjadi tantangan pendidikan di Kalimantan Utara (Kaltara). Diperlukan kolaborasi antara universitas, pemerintah daerah, swasta, masyarakat, dan orangtua untuk memulihkan kompetensi siswa yang sudah sempat hilang. Langkah kolaborasi ini diperlukan agar learning loss tidak memberi risiko jangka panjang kepada siswa. “Salah satu kompetensi penting yang mendesak untuk segera dipulihkan adalah keterampilan literasi,” terang Adri Patton, Rektor Universitas Borneo Tarakan (UBT) dalam Lokakarya Keberlanjutan Program Kemitraan Pendidikan Untuk Mendukung Pemulihan Pembelajaran di Gedung Rektorat UBT di Tarakan, Kalimantan Utara, Selasa (31/5).

Zulfikri Anas, Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Badan Standar, Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemdikbudristek mengatakan literasi merupakan kompetensi dasar yang akan menentukan masa depan anak. Hanya dengan memiliki keterampilan literasi, maka anak akan mampu memahami ilmu pengetahuan, mengasah keterampilan, dan memperkuat karakter serta budi pekertinya. Semakin baik keterampilan literasi, maka semakin baik prestasi belajar anak.

Lebih lanjut Zulfikri mengatakan Kemdikbudristek telah mengeluarkan beberapa kebijakan baru untuk mengatasi masalah learning loss. Salah satunya dengan meluncurkan Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini mendorong pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa, serta memberi ruang lebih luas pada pengembangan karakter dan kompetensi dasar. Kurikulum Merdeka memiliki beberapa karakteristik utama yang mendukung pemulihan pembelajaran seperti pembelajaran berbasis proyek untuk pengembangan soft skill dan karakter, fokus pada materi esensial sehingga ada waktu cukup untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi, dan fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid (teach at the right level) dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal.  ”Dibutuhkan kerja sama antara semua pihak, baik itu pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, swasta, dan masyarakat untuk menuntaskan tantangan pendidikan ini. Peran serta semua pihak sangat diharapkan untuk meningkatkan keterampilan literasi di daerah masing-masing,” terangnya.

Baca Juga :  HPN 2026 di Kaltara: Perkuat Sinergi Pers, Pemerintah, dan Masyarakat untuk Daerah Maju dan Berkelanjutan
Peserta lokakarya mendapatkan sovenir.

Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Borneo Tarakan (FKIP UBT), Suyadi mengatakan hasil assessment nasional 2021, menunjukkan belum sampai 50 persen siswa SD di Kaltara yang mencapai kompetensi minimum untuk keterampilan membaca. Padahal keterampilan membaca merupakan keterampilan dasar yang harus dimiliki seorang anak untuk bisa mengembangkan kemampuan dan potensi dirinya. Hanya dengan terampil membaca, seorang anak dapat memahami mata pelajaran dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. ”Seharusnya seorang siswa SD harus sudah terampil membaca di kelas 3 SD,” terangnya.

Baca Juga :  Jelang Imlek, Polisi Cek Kesiapan Pengamanan di Tempat Ibadah

Lebih lanjut Suyadi mengatakan guru memiliki peran penting dalam proses pemulihan pembelajaran. Terutama dalam memulihkan kemampuan literasi. Guru dituntut mampu melakukan assessment baik secara kognitif dan non-kognitif, melakukan pembelajaran terdiferensiasi, dan membuat bahan ajar yang sesuai dengan kemampuan siswa.

Ia mengatakan sejak tahun 2021 FKIP UBT dengan dukungan Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) telah berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Tarakan untuk meningkatkan kemampuan guru memulihkan kemampuan literasi. Program ini diimplementasikan di 16 SD dengan melibatkan 93 orang guru yang berada di dua kecamatan di Tarakan. Program kemitraan ini dilaksanakan dengan memberi pelatihan dan pendampingan kepada guru melalui Kelompok Kerja Guru (KKG). ”Hasil evaluasi kami menunjukkan sebanyak 60,04 persen guru yang mengikuti program ini mengalami peningkatan kemampuan teknis yang signifikan,” tambahnya.

Baca Juga :  Deteksi Dini Kunci Pencegahan Penyebaran HIV/AIDS

Selain pelatihan dan pendampingan guru, ketersediaan buku anak menjadi komponen penting dalam pemulihan kemampuan literasi. Ia mengatakan tidak semua buku bisa digunakan untuk membantu anak meningkatkan kemampuan membaca. Setiap anak memiliki kemampuan berbeda, karena itu mereka harus diberikan buku yang sesuai dengan usia, minat, dan kemampuan membacanya. Memberikan buku anak yang tepat menjadi faktor kunci pemulihan pembelajaran.

Kegiatan Lokakarya Keberlanjutan Program Kemitraan Pendidikan Untuk Mendukung Pemulihan Pembelajaran di Kalimantan Utara diisi dengan kegiatan talk show, pameran produk pembelajaran dan buku. Kegiatan ini dihadiri, Jarwoko, Kepala Badan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Kalimantan Utara, Eny Suryani, Sekretaris Disdikbud Kota Tarakan, Eva Nukman Direktur Operasional Yayasan Litara, dan Egosonie Enggar Bastiar, S.Psi., CSR Superintendent PT Mitrabara Adiperdana, Tbk.(*/m)

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *