oleh

Kaltara Bentuk Satgas Penanganan Hepatitis Akut

benuanta.co.id, TARAKAN – Virus hepatitis di Indonesia dinilai semakin berkembang setelah muncul ungkapan dari Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante, terdapat sebanyak 14 kasus hepatitis akut yang ditemukan di tanah air hingga 20 Mei 2022.

14 kasus tersebut, terdapat empat yang meninggal dunia dan sisanya dalam perawatan. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kalimantan Utara, Agus Suwandi menuturkan bahwa penularan Hepatitis dapat melalui udara. Kendati belum ditemukannya kasus di Kaltara pihaknya telah membentuk satgas untuk penanganan Hepatitis.

“Virus itu kalau di udara punya batas waktu, tapi lebih banyak penularan lewat makanan yang sudah terkontaminasi dan dikonsumsi, jadi kurang lebih sama dengan covid-19,” tuturnya, Selasa (24/5/2022).

Baca Juga :  Rawan Perampokan, Polda Kaltara Minta Masyarakat Terus Waspada Saat Panen Tambak

Meski rata-rata menyerang anak usia 0 hingga 16 tahun, Hepatitis juga mampu menyerang usia dewasa sebab dalam penularan penyakit ini tidak memiliki batasan.

“Saat ini kalau sebagian besar kasusnya dibawah 16 tahun. Tapi tidak menutup kemungkinan bisa terjadi diusia yang di atas 16 tahun,” jelas Agus.

Dalam melakukan pemeriksaan dan menyatakan seseorang terinfeksi hepatitis akut juga memiliki tahapan dan proses yang panjang. Pengambilan sample harus melalui langkah pemeriksaan di laboratorium, pemeriksaan lanjutan di rumah sakit maupun puskesmas.

“Bisa diambil sampelnya kalau orang itu dicurigai, sampelnya dikirim ke laboratorium yang ditunjuk Kemenkes. Jadi memang cukup panjang prosedurnya,” ucap Agus.

Lebih lanjut dijelaskan Agus hepatitis akut memiliki 5 kategori yakni hepatitis A, B, C, D dan E. Pada hepatitis A dan B merupakan hepatitis akut sedang C, D dan E merupakan hepatitis kronis. Pada dasarnya kasus ini ringan dan tidak menimbulkan kematian.

Baca Juga :  BNPT Upayakan Konseling untuk Eks Murid Sekolah Khilafatul Muslimin

“Kalau yang hepatitis C, D dan E itu cukup banyak ditemukan dimasyarakat dan bersifat kronis, bisa menular lewat darah maupun hubungan seks. Ini pengobatannya lama bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengendalikan virus tersebut. Karena kalau tidak diobati, bisa mengarah pada kanker hati hingga kematian,” jelasnya.

Namun hingga kini hepatitis akut masih belum diketahui namun gejalanya mirip dengan penyakit lainnya seperti mual, muntah, diare dan demam ringan.

“Kalau terjadi gejala lanjutan misalnya kuning sampai kejang itu yang spesifik. Tapi kalau sudah terjadi itu, agak berat untuk kami tangani. Makanya kalau sudah ada gejala mual, muntah dan demam faskes harus segera melakukan pemeriksaan hepatitis di faskes masing-masing,” tegasnya.

Baca Juga :  WHO: Persepsi Pandemi Usai Salah Arah

Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Franky Sientoro, Sp.A membenarkan bahwa pihaknya juga telah membentuk Satgas guna penanganan dan monitoring hepatitis akut bersama Dinkes Kaltara sebab hepatitis akut sudah masuk ke dalam kasus kejadian luar biasa (KLB).

“Ada organisasi kesehatan seperti IDAI dan IDI, Dinkes, rumah sakit. Satgasnya belum, nanti dibuat SKnya dulu, anggotanya dokter anak, dokter umum dan Dinas Kesehatan. Minggu ini dibentuk untuk monitoring,” tandasnya. (*)

Reporter: Endah Agustina

Editor: Ramli

Klik Link Video di Bawah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

fifteen − four =