oleh

“Rumah Kita”

Oleh: H. Rachmat Rolau
(Ketua DK-PWI Kaltara)

 

“RUMAH” inilah, kemudian menjelma menjadi sebuah slogan: “Kaltara Rumah Kita”. Adalah Gubernur Kaltara, Drs H Zainal Arifin Paliwang, SH, M.Hum dan wakilnyanya, DR Yansen TP, Msi, mempopulerkannya menjadi jargon kampanye politik pada pemilihan gubernur dan wakil gubernur Kaltara tahun lalu.
Hanya saja, di balik kalimat pendek itu, belum ada yang menjelaskan makna “Kaltara Rumah Kita”, dalam konteks yang lebih luas, yang pasti sarat akan makna. Saya termasuk yang penasaran ingin tahu lebih jauh makna slogan itu.

Untuk menyingkap kandungan di balik “Kaltara Rumaha Kita”, saya dan seorang rekan wartawan senior dari Koran Online “Siaga Satu” berhasil mewawancai Gubernur Kaltara, yang popular dengan panggilan Pak Zainal, di rumah jabatannya, Rabu 04 Mei 2022. Berikut petikan wawancara H. Rachmat Rolau (RR) dengan Gubernur, Zainal Arifin Paliwang (Ziap).

Saya (RR) : “Pak gubernur, di masa kampanye pemilihan gubernur dan wakil gubernur Kaltara tahun lalu, bapak mengangkat satu slogan menarik: “Kaltara Rumah Kita”. “Bisa dijelaskan”? Ziap: Kaltara itu ibarat sebuah rumah tangga. Di dalam rumah tangga ada kepala keluarga sekaligus pemimpin. Ada istri sebagai wakil, dan anak-anak sebagai masyarakat yang dipimpin.

(RR) : “Lantas bagaimana menerjemahkan sebuah keluarga kecil (rumah tangga) ke dalam sebuah sistem pemerintahan yang lebih luas”?
(Ziap): Dalam sebuah rumah tangga, ada kebiasaan untuk saling menghargai dan menyayangi. Di dalam rumah tangga, juga ada kerukunan dan saling menghargai perbedaan. Dan Kaltara – sebagai “rumah kita”, ada pemimpin yang mengayomi, menyayangi dan senantiasa memelihara hubungan baik dengan masyarakat.

Hubungan-hubungan yang baik inilah yang harus dijaga dan pelihara oleh warga Kaltara, agar tercipta sebuah kerukunan dan kedamaian. Kaltara, juga dihuni berbagai macam suku dan agama. Maka perbedaan-perbedaan itu harus dihargai dan dihormati sebagai menifestasi sebuah toleransi.

Karena itu, meski pun saya gubernur, tetap memelihara hubungan baik dengan semua lapisan masyarakat. Bukan karena saya gubernur, lantas saya harus dihargai. Bukan. Saya terbiasa mengunjungi orang-orang yang lebih tua. Tokoh-tokoh masyarakat. Mereka harus diberi semangat. Kita tanya kesehatannya, dan sebagainya. Ini juga bagian dari upaya pemimpin menjalin hubungan baik dengan semua strata sosial berbeda.

(RR) : “Pak gubernur, dalam rumah tangga, tentu ada upaya kepala keluarga mensejahterakan keluarganya. Untuk Kaltara yang lebih luas, apa yang sudah dilakukan pemerintah”?

(Ziap) : Kesejahteraan itu, kan tidak selalu identik dengan ekonomi. Tapi juga pendidikan, dan kesehatan. Beberapa waktu lalu, saya hadir di Universitas Borneo untuk sebuah acara wisuda. Di sana, para mahasiswa motivasi untuk terus belajar.

Pemerintah Kaltara akan membatu melalui beasiswa bagi mereka memang memenuhi syarat. Ini bagian dari upaya pemerintah Kaltara meningkatkan sumber daya manusia (SDM). Menghadapi era industri, Kaltara harus siap. Sebab, ke depan, persaingan tampaknya akan semakin berat. Saat ini, Kaltara menjadi incaran sejumlah investor asing. Karena itu mulai sekarang, pemerintah harus melakukan persiapan.

Mengenai kesehatan (Ziap melanjutkan), setiap warga Kaltara wajib memiliki kartu dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Namun, bila mereka tidak mampu, pemerintah memberi dispensasi. Cukup dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Kaltara sudah dapat dijamin.

(RR) : “Bagaimana dengan kesejahteraan (ekonomi)”?

(Ziap): Dari sisi ekonomi, pemerintah mendorong masyarakat petani rumput laut untuk membuat koperasi. Melalui koperasi itu, nantinya para petani rumput laut dapat meningkatkan penghasilan. Kita tahu, potesi rumput laut di Kaltara, khususnya Tarakan, sangat besar.

Sehingga pemerintah menganggap perlu ada satu wadah untuk menaungi para petani itu. Selama ini, harga rumput laut yang sampai ke petani relatif rendah. Tetapi dengan adanya koperasi, diharapkan, harga komoditas itu bisa stabil. Dan yang lebih penting lagi, petani rumput laut tidak lagi menjadi korban permainan para tengkulak.

(RR) : “Baik, terimakasih atas waktunya, Pak”.
Meski perbincangan saya dengan gubernur hanya berlangsung kurang dari 5 menit, namun semua yang disampaikan cukup jelas, lugas, mudah dipahami. Gubernur yang selalu tampil humble ini, memberi saya waktu terbatas, lantaran beberapa menit lagi beliau harus tiba di airport menuju Jakarta. (**)

Klik Link Video di Bawah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

eleven − one =