benuanta.co.id, TARAKAN – Kebutuhan pangan saat Ramadan menjadi faktor utama yang harus pastikan aman oleh pemerintah setempat. Meski stok terpantau aman, namun kenaikan harga belum pernah absen dari awal Ramadan hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Termasuk harga telur ayam juga terlihat mulai merangkak naik. Pasalnya, Tarakan harus mendatangkan telur dari Sulawesi karena produksi telur hanya bisa dipenuhi sebanyak 40 persen.
“Kebutuhan telur di bulan puasa di Tarakan 3 kali lipat. Karena pelaku UMKM sangat membutuhkan. Untuk membuat kue. Jadi sekarang tidak hanya dikonsumsi untuk lauk pauk. Bahkan sebentar lagi akan ada kue kering di supermarket. Makanya kebutuhannya meningkat,” ujar Kepala Dinas Peternakan, Pertanian dan Pangan (Disnaktangan) Tarakan, Elang Buana, Sabtu (23/4/2022)
Berdasarkan pantauan Benuanta di lapangan, harga telur saat ini berkisar antara Rp 54 hingga Rp 56 ribu per piringnya.
Diakui Elang, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan distributor sekaligus menentukan prognosa. Hanya saja yang menjadi kendala, kebutuhan distributor ada yang kurang sehingga mempengaruhi lagi harga di pasaran.
“Kami sudah meminta distributor untuk mendatangkan kebutuhan sembako yang lebih,” katanya.
Menyoal kebutuhan ayam di bulan Ramadan semakin meningkat, pihaknya sudah menyiapkan kebutuhan day old chicken (DOC), ditambah dari jumlah sebelumnya.
Dari pengusaha inti, kata dia sudah berkomitmen menyiapkan 350 ribu DOC, dengan tingkat kematian diperkirakan 5 persen.
“Sekitar 606 ton kebutuhan ayam kita selama Ramadan dan Hari Raya. Ini untuk pengusaha lokal saja. Kalau ayam dari luar, kami datangkan ayam yang beku. Jadi bisa menstabilkan harga,” tukas Elang.
Sedangkan untuk kebutuhan beras di Tarakan, menurutnya tidak terlalu berpengaruh, meski di bulan Ramadan. Ia terangkan, untuk kebutuhan beras ini tetap sama setiap bulannya, meski di momen tertentu seperti Ramadan, Lebaran hingga Natal maupun hari besar lainnya.
“Sejak awal April, pemerintah sudah menaikkan pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 11 persen, ada harga sejumlah produk yang dibebankan PPN juga turut mengalami kenaikan,” bebernya.
Meski terkait harga pangan tidak terlalu berpengaruh, namun untuk pakan ternak mengalami kenaikan sehingga kemungkinan juga berpengaruh dengan harga ternak, diantaranya sapi dan ayam.
“Harga pakan ayam saat ini sudah mencapai Rp 150 ribu per kg. Ditambah lagi kebutuhan masyarakat yang juga mengalami kenaikan di saat memasuki ramadan,” tutup Elang.
Sementara itu, salah satu warga yang tengah berbelanja di salah satu pasar tradisional Kota Tarakan, Fitriani (25) mengungkapkan bahwa ia baru saja membeli telur seharga Rp 56 rupiah dengan ukuran yang besar.
“Saya seminggu lalu beli itu harganya masih Rp 50 ribu, tapi ini sudah naik lagi. Kata penjualnya yang kecil Rp 54 ribu, yg besar Rp 56 ribu. Biasanya itu yang besar cuma Rp 56 ribu ini naik lagi, pengaruh mau lebaran ini kebiasaan harganya selalu naik,” tegasnya.
Kendati begitu, ia tetap memutuskan untuk membeli karena ia juga membutuhkan telur sebagai stok pangan di rumahnya.
Sementara harga telur ayam juga naik di Kabupaten Nunukan. “Sudah 2 hari harga telur naik, dari pemasok harganya naik jadi kita juga naikkan harganya. Sebelumnya harga ecerannya Rp 49 ribu per piring sekarang naik Rp 3 ribu jadi Rp 52 ribu untuk ukuran yang sedang, kalau yang besarnya sebelumnya biasa Rp 52 Ribu sekarang Rp 56 Ribu per piring” kata Ali pemilik agen telur Mitra Usaha di Jalan Pasar Baru.
“Ini telur Sulawesi, Senin nanti kapal Thalia terakhir masuk, jadi kita sudah pesan 4.200 ikat telur untuk stok sampai lebaran,” ujarnya.

Meski harga telur mengalami kenaikan tidak mengurangi aktifitas jual beli di agen Mitra Usaha, terpantau warga Nunukan selalu datang bergantian membeli telur.
“Harganya memang naik, karena kita mau bikin kue lebaran bahannya telur ya mau tidak mau kita tetap beli. Disini sedikit murah kalau di pasar ada yang harganya Rp 53 ribu ada yang Rp 54 ribu per piring,” ujarnya.(*)
Reporter: Endah Agustina/Novita A.K
Editor: Ramli







