benuanta.co.id, TARAKAN – Beberapa waktu lalu Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan rilis berita menyoal gempa bumi berkekuatan 3.4 SR di Kota Tarakan pada Kamis, 7 April 2022 lalu.
Informasi yang terkandung bahwa episenter gempa terletak pada koordinat 3,36 LU dan 117,6 BT lokasi di darat, tepatnya di tengah-tengah Pulau Tarakan dengan kedalaman 10 kilometer.
Hasil analisis juga menyatakan Tarakan merupakan wilayah rawan gempa dan tsunami, karena berada di lokasi yang berhadapan dengan sumber gempa Megathrust Utara Sulawesi.
Merespon hal tersebut, Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Republik Indonesia (RI), Marsekal Madya TNI Henri Alfiandi juga memastikan kesiapannya dalam menghadapi kemungkinan bencana di wilayah Kalimantan Utara.
Pihaknya memastikan bahwa SAR di wilayah Tarakan juga harus berkomunikasi dengan intens bersama pihak BMKG.
“Kami memiliki channel dan jalur whatshapp dari BMKG. Update terus untuk mengetahui kemungkinan potensi terjadinya gempa, melalui laporan ke kami setiap hari. Jika mungkin akan terjadi gempa atau hingga tsunami di wilayah Kaltara,” ujarnya saat kunjungan ke Kaltara pada Selasa (12/4/2022) lalu.
“Bahkan semisal di Tawau atau negara lain yang berdekatan. Adanya retakan bumi, kami bisa mengantisipasi dan memberikan peringatan dini kepada masyarakat,” sambungnya.
Sedangkan masalah peralatan, pihaknya juga memastikan dari alat utama yang dimiliki SAR Tarakan masih bisa dikatakan cukup. Meski, dibandingkan dengan negara Jepang, peralatan SAR yang ada ini masih jauh dibawahnya.
Sebelum ini, pihaknya juga melakukan penanaman bersama mangrove serentak di seluruh Indonesia. Mangrove ini diharapkan bisa menahan laju gelombang dari tsunami masuk ke daratan. Pihaknya akan menjadikan program penanaman mangrove ini untuk dilaksanakan setiap tahun.
“Tapi, kita bisa meniru di sana (Jepang), memasang alat deteksi dini itu tugas BMKG. Kalau kami, siap memberikan bantuan dan pertolongan jika terjadi bencana di Kaltara. Tapi, saya lihat tanaman mangrove cukup bagus, sehingga bisa menahan dampak buruk dari tsunami,” tegasnya.
Terpisah, Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG RI, Eko Prasetyo belum lama ini mengatakan pihaknya masih belum bisa memprediksi terjadinya gempa dan tsunami.
Kendati begitu pihaknya memiliki alat dan telah memasang alat tersebut di titik-titik Pelabuhan Malundung Kota Tarakan. Alat itu ialah Early Warning System (AWS) yang berfungsi mendeteksi dini tsunami, dengan melihat pergerakan gempa.
Selain itu, juga menggunakan alat radar maritime untuk mendeteksi apakah ada pergerakan gelombang setelah terjadinya gempa.
“AWS itu mengkonfirmasi (dini jika ada prediksi tsunami). Upayanya jangan menunggu alat itu membaca, tetapi sistemnya harus diperhatikan masyarakat,” katanya.
Fenomena terjadinya tsunami, diawali dengan menurunnya debit air laut. AWS yang akan membaca grafik air laut yang tiba-tiba surut. Namun, tidak harus menandai surut tiba-tiba sebagai potensi tsunami.
Bisa jadi, gempa di daerah lain, tetapi air laut surut di daerah lainnya dan tetap tergantung penyebabnya.
“Penyebab tsunami ada banyak. Bisa patahan di dasar laut, bisa guguran gunung api di laut. Kalau di Tarakan ini tidak ada gunung api, yang harus diperhatikan adalah patahan di dasar laut, potensinya seberapa besar. Saya kira Kalimantan cukup aman untuk ancaman tsunami di lempengnya Indonesia. Tapi, kalau negara lain, kita menunggu imbasnya dan ada sistem Tsunami Early Warning System kita yang membaca,” tutupnya. (*)
Reporter : Endah Agustina
Editor : Nicky Saputra







