benuanta.co.id, TARAKAN – Kurang lebih hampir setahun lamanya 450 prajurit Yonif Raider 613/Raja Alam melaksanakan tugas penjagaan di daerah Kabupaten Puncak Jaya dan Kabupaten Mimika, Papua.
Bukan menjadi rahasia lagi, wilayah tersebut merupakan daerah rawan karena juga terdapat kelompok berbahaya yaitu Kelompok Kekerasan Bersenjata (KKB)
Setibanya di bumi Paguntaka, 450 prajurit Yonif Raider 613/Raja Alam langsung disambut dengan suasana kekeluargaan serta haru karena tidak berjumpa dengan sanak keluarga 11 bulan lamanya.
Upacara penyambutan prajurit ini dipimpin langsung oleh Komandan Brigade Infanteri (Danbrigif) 24/Bulungan Cakti Letkol Inf Teguh Wiratama di lapangan terbuka Yonif Raider 613/Raja Alam. Selanjutnya, Komandan Yonif (Danyonif) 613/Raja Alam, Letkol Inf Priyo Handoyo memimpin dan memberi arahan kepada prajurit.
Selaku pemimpin, ia mengaku sangat bangga dan bahagia karena telah kembali dengan jumlah yang sama ketika pergi bertugas diwilayah penghasil emas tersebut.
“Alhamdulillah selama 11 bulan di sana dengan keberhasilan yang luar biasa, ditandai dengan terciptanya keamanan dan kenyamanan selama 11 bulan dengan baik. Tugas perbantuan kepada Pemerintah Daerah, Kodim dan Polres Puncak Jaya juga dapat berjalan baik sehingga kehidupan perekonomian, pendidikan dan kesehatan dapat berjalan dengan baik pula,” paparnya dihadapan awak media, Rabu (13/4/2022).
Terdapat pula penghargaan yang prajuritnya terima dari Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad). Atas pencapaian tersebut, saat ini pihaknya sedang menajukan ke Markas Besar Aangkatam Darat sejumlah dua personel diajukan untuk kenaikan pangkat luar biasa. Sementara 109 personel lainnya diajukan mendapat penghargaan Kasad.
“Itu merupakan suatu apresiasi di institusi kita. Namun secara umum 450 prajurit ini mendapatkan penghargaan yang setinggi-tingginya dari Kodam VI/Mulawarman pengalaman juga dikancah dunia operasi secara umum,” ujarnya.
Ia juga mengucapkan terimakasih kepada Gubernur Kalimantan Utara, Wali Kota Tarakan, Dandim 0907 Tarakan, dan Kapolres Tarakan yang telah menjaga sanak keluarga serta saudara yang mereka tinggalkan dalam tugas pengabdian negara.
“Tanpa mereka kami berpikir bagaimana keluarga kami di sini, dan Alhamdulillah kami selamat juga sampai kembali di kota ini. Kepada Walikota Tarakan kami izin memasuki wilayah Tarakan dan kami siap melaksanakan tugas pokok kembali dalam rangka menciptakan situasi keamanan yang tertib agar aktivitas masyarakat dapat berjalan dengan baik,” lanjut Priyo.
Ia juga menceritakan tentang sulitnya dimedan operasi yang tentu tidak berperang dengan keadaan saja namun juga cuaca, logistik serta kesehatan yang dapat terselesaikan dengan baik.
Meski ancaman dan peluru di depan mata, ia mengaku terdapat kunci sukses sehingga bisa membawa 450 prajurit pulang kembali ke pangkuan Yonif Raider 613/Raja Alam dengan selamat. Salah satu kunci sukses yang ia selalu gaungkan ialah kedisiplinan.
“Ibaratnya nyawa sudah di ujung tanduk, kuncinya yaitu kedisiplinan. Tanpa kedisiplinan prajurit kita tidak dapat kembali dengan baik,” katanya.
Ia juga membenarkan bahwa sempat berhadapan langsung dengan KKB yang sangat mengganggu situasi keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat sekitar. Dalam operasinya, terdapat 7 KKB yang dinyatakan gugur dan juga prajuritnya berhasil mendapatkan senjata yang sempat digunakan KKB tersebut.
“Selama 11 bulan, disamping tugas pokok menjaga ketertiban kami juga menciptakan situasi aman bagi masyarakat, kami tidak tolerir oknum yang tidak berkepentingan mengganggu, seperti kita ketahui bersama di sana ada anggota separatis kelompok Papua. Benar, kami mendapati itu, 7 dinyatakan meninggal, satu pucuk senjata M16 A1, kemudian satu pucuk senjata Mouser, alat komunikasi, serta dokumen-dokumen itu kita dapatkan bahwa keberadaan KKB itu nyata benar adanya,” jelasnya.
Ke depan ia bersama 450 prajurit yang telah purna dihadapkan dengan tugas penjagaan di wilayah Kaltara. Terlebih pada tahun ke depan adalah tahun politik yang menurutnya ancaman dari internal dan juga eksternal dapat mungkin terjadi. (*)
Reporter: Endah Agustina
Editor: Ramli







