benuanta.co.id, NUNUKAN – Usaha membatik kain menjadi bidang usaha tertentu yang memiliki peluang cuan. Di masa masih pandemi seperti sekarang, berbagai peluang cuan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menambah penghasilan.
Owner Batik Lulantatibu Cipratan Nunukan, Rahayu Suryani, mulai menekuni membatik sejak tahun 2017 hingga saat ini. Ia mengenang masa itu membatik masih dilakukan secara sederhana yakni diikat lalu dicelup ke pewarna kain menggunakan cara koin, kelereng, batu dimasukkan ke dalam kain lalu diikat. Menurutnya, kala itu belum ada motif.
Dikatakan Rahayu, sebelum membuat batik dia melihat masyarakat dan orang kantoran di Nunukan ingin menggunakan pakaian batik harus memesan di Jawa, sehingga dia terpikir untuk produksi sendiri.
2017 itu, Rahayu memiliki lembaga pendidikan non formal kesetaraan, di sekolah yang dia bina memiliki program dari Dinas Pendidikan program Let’s Skill, peserta selain mengenyam pendidikan juga dibekali keterampilan agar ketika mereka nantinya sudah lulus dari sekolah paket, tidak hanya menyandang ijazah saja tapi mereka juga memiliki keterampilan.
“Saya melihat ada peluang dan terpikirkan dengan membuat batik, akan bisa mendapatkan keterampilan kepada peserta didik. Apalagi Nunukan belum ada yang produksi batik, mulai dari 2017 itu sudah mulai proses pembuatan batik tapi saat itu hanya diikat baru dicelup, saat itu belum ada motif,” kata Rahayu Suryani, kepada benuanta.co.id, Sabtu (9/4/2022).
Seiring dengan waktu proses pembuatan batik perlahan berubah dari yang hanya diikat lalu dicelup ke dalam pewarna kini telah di berikan motif. Proses pembuatan batik banyak cara, jika menggunakan cap akan lebih mudah karena setelah di cap bisa langsung di warnai, berbeda dengan batik tulis. Batik tulis ini menggambar terlebih dahulu motif di kain yang berwarna putih sebagai dasar.
Setelah mengukir atau gambar batik lalu akan menyanting dengan lilin yang panas, setalah itu diberikan warna tergantung keinginan atau keinginan pesanan batik.
“Jadi, batik yang kami buat ini sesuai selera pemesan saja mau warna apa, dan itu tergantung permintaan pasar juga,” jelasnya.
Batik di Buat Rahayu ini khas asli Kalimantan Utara (Kaltara) khususnya di Kabupaten Nunukan yang terdiri dari empat motif yakni arit tabuk dari etnis Lundayeh, persatuan dari etnis Tahalan, Tameng dari etnis Tagahol atau Tahol, sedangkan yang terakhir yakni persatuan dan bunga raya dari etnis Tidung dan Bulungan.
“Ini diambil dari suku Dayak yang ada di kabupaten Nunukan, jadi kami tinggal meniru saja yang sudah di patenkan oleh pemerintah daerah (Pemda) kabupaten Nunukan. Jadi kita disitu melakukan pengembangan nya lagi,” ujarnya.
Dari hasil pengembangan selama ini, Rahayu telah mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atas pengembangan motif yang sudah ada yakni dari Lulantatibu ke Lulantatibu cipratan.
Setalah memproduksi batik Rahayu banyak menerima pesanan dari kantoran, hingga luar daerah seperti Jawa, Malang, NTB dan Kendari, sudah membeli produk batik khas buatannya. Banyak pemesanan kain dengan panjang 2 meter 15 pcs, lebar 1 meter 10 pcs, dengan harga Rp 300 ribu, jika pemesanan banyak harga bisa turun menjadi Rp 250 ribu.
“Saya mendapatkan omzet atau pesanan tidak setiap harinya, ada hari-hari tertentu seperti halnya ada Iraw, pelantikan, atau event bisa mendapatkan Rp 20 juta,” ujarnya.
Untuk ke depannya Rahayu telah berencana tidak hanya memproduksi kain batik saja. Tetapi, akan memproduksi baju, sehingga nantinya akan menjual yang sudah jadi dan akan tetap konsisten akan memproduksi batik terus, bukan hanya pada saat ada pesanan saja atau event. Jika melihat stok menipis maka akan membuat lagi sehingga tidak menunggu habis stok yang ada.
Ia berharap perajin batik yang ada di Nunukan agar dapat bisa bekerja sama dengan pemerintah untuk mendorong masyarakat hingga instansi terkait di Kabupaten Nunukan, agar bisa menggunakan atau membeli batik hasil produksi di daerahnya.(*)
Reporter: Darmawan
Editor: Ramli







