benuanta.co.id, TARAKAN – Kondisi cuaca pada beberapa hari terakhir terbilang cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan pantauan, setiap malam hari khususnya pada pukul 22.00 WITA ke atas hujan dengan intensitas sedang hingga lebat tidak jarang disertai angin dan petir kerap kali terjadi.
Melihat fenomena ini, Forecaster Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kota Tarakan, Raa’ina Farah Nur Annisa menerangkan bahwa kondisi hujan di malam hari ini disebabkan oleh dampak tidak langsung dari adanya bibit siklon tropis di wilayah Filipina.
“Bibit siklon tropis tersebut bernama 94W dengan kecepatan angin 15 knots, berdasarkan pantauan citra satelit adanya kumpulan awan konfektif terutama di bagian utara bibit siklon tadi,” terangnya saat dihubungi Benuanta melalui sambungan telepon, Kamis (7/4/2022).
Dampak tidak langsung dari bibit siklon itu juga terdapat pada wilayah perairan laut Sulawesi yang terdeteksi ada kumpulan awan konfektif yang memanjang. Hal inilah yang menyebabkan pembentukan awan konfektif di wilayah perairan dan daratan Kaltara relatif tinggi.
“Jadi sekitar tanggal 5 sampai 6 April terdapat putaran masa udara di utara Kalimantan, itu yang menyebabkan hujan disertai angin kencang pada malam hari,” tuturnya.
Sementara untuk kecepatan angin harian di wilayah Kaltara sendiri sekitar 5-10 knots dengan kategori sedang. Pun dengan wilayah perairan, jika pertumbuhan awan konfektif berada di wilayah perairan, potensi untuk kecepatan angin di laut juga lebih kencang.
“Jadi misalnya pertumbuhan diwilayah perairan Tiu bisa menyebabkan angin kencang juga, karena kencangnya angin tadi juga berdampak pada tinggi gelombang,” papar Raa’ina.
“Untuk bibit siklon sendiri masih diprediksi potensi sistem tumbuh menjadi siklon dalam waktu 24 jam ke depan, ya kalau bibitnya saja harus diwaspadai apalagi sudah jadi siklon,” sambungnya.
Adapun dampak tidak langsung dari bibit siklon dalam waktu 24 jam ke depan ialah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, potensi angin kencang diwilayah perairan laut Sulawesi serta tinggi gelombang juga relatif lebih tinggi 1.25 hingga 2.5 meter.
“Nelayan harus waspada sih karena masih ada potensi perubahan tinggi gelombang hingga beberapa waktu ke depan,” tukasnya.
Terpisah, Kasat Polair Polres Tarakan, IPTU Jamzani mengimbau untuk cuaca buruk ia meminta nelayan agar lebih berhati-hati dan mempersiapkan alat emergency untuk penanganan pertama.
“Disiapkan pelampung, kemudian penerangan harus sedia terus, kemudian pantau informasi cuaca dari BMKG juga supaya bisa mengira-ngira memastikan cuaca saat berlayar,” singkatnya. (*)
Reporter: Endah Agustina
Editor: Matthew Gregori Nusa







