Pertamax Naik, Pakar Ekonomi: Sudah Jatuh Ditimpa Tangga

benuanta.co.id, TARAKAN – Wacana pemerintah menaikkan sejumlah harga pada komoditi tertentu nampaknya bukanlah sekedar rencana. Kenaikan ini sudah terlihat sejak akhir tahun 2021 lalu dimana harga minyak goreng naik dengan cukup signifikan. Harga yang masih melambung tinggi juga berlangsung hingga mempengaruhi Bahan Bakar Minyak (BBM).

Kenaikkan harga pangan lain juga terpantau pada komoditas gula pasir serta tepung-tepungan. Hal ini juga didukung karena pemerintah telah resmi menaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 11 persen.

Tidak sampai di situ, baru-baru ini harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax juga mengalami kenaikan dari Rp 9.000 menjadi Rp 12.750 untuk wilayah Kalimantan Utara (Kaltara)

Menanggapi hal tersebut, pakar ekonomi Kaltara, Dr. Margiyono, S.E., M.Si., mengatakan bahwa dalam posisi berdiri yang belum stabil masyarakat Indonesia ibarat peribahasa sudah jatuh ditimpa tangga.

Baca Juga :  Harga Telur di Pasar Gusher Tarakan Naik Bertahap Jelang Imlek dan Ramadan

“Inilah wujud betapapun tidak langsungnya rakyat memiliki negaranya, maka yang membiayai negaranya ya rakyat, dari pajaknya dia, kalo pemerintah kurang uang harus naikan harga, subsidi dipotong, naikkan pajak,” bebernya saat dihubungi benuanta, Selasa (5/4/2022).

Menurutnya, kenaikkan harga yang terus menerus terjadi ini membuat masyarakat semakin sulit terlebih jika tidak dikonfrontir, kenaikan harga ini akan semakin membabi buta menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Beruntungnya, pada kenaikkan pertamax ini kalangan yang sedikit terpukul ialah kalangan menengah ke atas. Terdapat pula indikasi pergeseran konsumsi dari Pertamax ke Pertalite. Namun, hal ini bisa diredam ketika pemerintah mampu menjamin ketersediaan stok untuk jenis Pertalite.

Baca Juga :  Jelang Imlek, Polisi Cek Kesiapan Pengamanan di Tempat Ibadah

“Penawarnya kan masih ada Pertalite, akses terhadap Pertamax menurun karena kenaikkan harga permintaan kemudian bisa Pertalite meningkat, potensinya akan terjadi itu. Kalau tidak mampu di atasi dengan suppy pertalite yang cukup maka akan ada double antrian, karena pergeseran konsumsi dari Pertamax ke Pertalite,” jelas Margiyono.

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Borneo Tarakan (UBT) tersebut menerangkan untuk kalangan menengah ke bawah bisa jadi masih aman. Karena Bantuan Langsung Tunai (BLT) dikabarkan cair yang dapat membuat masyarakat miskin sedikit dapat bernapas lega.

“Yang kena pukulan berat ya kelompok menengah ke atas, jadi Pertamax tidak menyentuh masyarakat bawah yang tekananannya agak berat minyak goreng itu karena dibutuhkan semua (kalangan),” ucapnya.

Baca Juga :  BPJS Ketenagakerjaan Tarakan Sosialisasikan Permenko No. 1 Tahun 2026: Lindungi Nasabah KUR Melalui Jaminan Sosial

“Kalaupun PPN naik 1 persen, sekarang masyarakat miskin kebutuhan transportasi kemudian komunikasinya tidak sebesar masyarakat menengah ke atas,” tambah Margiyono.

Kenaikan harga BBM Pertamax ini juga berpotensi kepada inflasi yang mana kenaikan tarif untuk angkutan barang dan orang juga bisa terjadi.

“Potensi kenaikkan tarif angkutan darat otomatis juga berdampak terhadap harga jual, jasa transportasi orang dan barang. Efeknya kenaikkan inflasi karena permintaan musiman juga meningkat ditambah harga yang meningkat dan antrean tadi,” tutupnya. (*)

Reporter: Endah Agustina

Editor: Matthew Gregori Nusa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *