benuanta.co.id, TARAKAN – Kecelakaan Lalu Lintas (Laka Lantas) menjadi konsekuensi ketika pengendara lalai atau melanggar aturan dalam berkendara. Tercatat, pada bulan Januari hingga Maret 2022 terdapat total 29 kecelakaan lalu lintas di Kota Tarakan.
Kapolres Tarakan, AKBP Taufik Nurmandia melalui Kasat Lantas Polres Tarakan, AKP Rully Zuldh Fermana mengatakan tren laka lantas mengalami penurunan di awal tahun 2022.
“Yang paling banyak itu bulan Januari sebanyak 16 LP (Laporan Polisi), kemudian Februari 9 LP, Maret ini 4 LP untuk fatalitas yang meninggal ada 3 LP,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (28/3/2022).
Dari keseluruhan, total kecelakaan kategori ringan dengan fatalitas yang tidak terlalu parah. Sementara yang terjadi paling tejadi kecelakaan masih didominasi kendaraan roda dua.
“Ada yang OC (Out Control), OC ini sendiri ada juga yang laka ada lawannya. Kebanyakan OC itu ya mungkin di tempat sepi hampir dipastikan tidak ada halangan untuk dia jadi memang 100 persen kesadaran dia, karena lalai,” jelasnya.
Perwira balok tiga itu melanjutkan, wilayah rawan laka dengan fatalitas yang tinggi berada di area Juata dan Amal. Menurutnya, dua area tersebut juga dipengaruhi kondisi jalan yang kurang baik.
“Kalau wilayah kota kebanyakan fatalitasnya tidak terlalu tinggi, memang fasilitas jalan pun beda. Kalau di Amal itu jalanan menanjak dan kurang bagus, sama juga ke arah Juata makanya fatalitas tinggi kalau kecelakaan daerah situ,” imbuhnya.
Disinggung soal pengawasan menjelang bulan Ramadan, ia menuturkan saat ini pihaknya masih melakukan pemetaan karena wilayah Tarakan sendiri sifatnya tidak bisa berkendara untuk ke luar kota.
Ia mengantisipasi bahwa saat Ramadan akan lebih fokus ke dua wilayah yakni Amal dan Juata. Ia juga akan mengerahkan personel untuk fokus kepada wilayah yang cenderung ramai seperti pasar Ramadan, tempat ibadah tarawih, dan lokasi wisata.
“Kalau bulan puasa pas masyarakat beli sembako, ada isu yang lagi hangat juga ada salah satu sembako yang jadi incaran. Jadi mungkin masyarakat fokus ke situ, kemudian budaya kita ngabuburit sore-sore ke tempat ramai. Seperti alun-alun kota, Islamic dan pasar Ramadan,” ujarnya
“Kemudian ibadah sholat tarawih itukan pasti mobilitas tinggi dari Magrib hingga tarawih, bahkan sampai menjelang sahur ya beberapa masyarakat ada yang ngebut di jalan. Juga hari raya kita atensi tempat wisata yang mungkin banyak kerawanan laka juga,” pungkas Rully. (*)
Reporter : Endah Agustina
Editor : Yogi Wibawa







