benuanta.co.id, NUNUKAN – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Nunukan, melakukan kegiatan pengembangan literasi berbasis inklusi sosial melalui kegiatan pembuatan sabun padat, pada Senin 28 Maret 2022.
Pelatihan ini turut melibatkan masyarakat dari Usaha Kecil dan Menengah (UKM), Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Permakaman (DKPP) Nunukan dan staf honorer di perpustakaan dengan jumlah peserta 20 orang.
Ninda, salah satu peserta dari UKM Nunukan mengatakan kegiatan ini dinilainya berpotensi untuk membuat usaha baru di masa-masa sulit seperti pandemi saat ini. Apalagi bahan baku yang digunakan juga mudah didapatkan, yaitu hanya menggunakan air, minyak kelapa dan NaOH.
“Bahannya mudah sekali didapatkan di Nunukan, sehingga ini bisa menjadi peluang usaha bagi yang mau mengembangkan prodak lokal sabun,” kata Ninda, kepada benuanta.co.id.
Tak hanya bahan baku yang mudah didapatkan, proses pembuatan sabun ini juga tergolong mudah. Proses pembuatannya sendiri memakan waktu sekitar 50 menit untuk bisa diolah. Apalagi di Nunukan banyak rumput laut yang bisa dikombinasikan sesuai keinginan.
“Dalam pembelajaran atau pelatihan ini saya mendapat wawasan ilmu, yang tadinya saya tidak tahu menjadi tahu,” jelasnya.
Kepala Bidang (Kabid) Perpustakaan Kabupaten Nunukan, Sadariah menjelaskan kegiatan ini bertujuan untuk menambah pengetahuan sehingga nantinya bisa dikembangkan oleh para peserta UKM.
Melalui kegiatan tersebut, Perpustakaan Kabupaten Nunukan juga ingin mengenalkan masyarakat bahwa di perpustakaan tidak hanya membaca buku dan meminjam buku. Namun kegiatan positif lainnya bisa dilaksanakan di perpustakaan, termasuk pelatihan membuat sabun.
“Mereka bisa memproduksi sabun sendiri sehingga bisa digunakan tanpa membeli lagi,” ujar Sadariah.
Sadariah berharap para peserta yang mengikuti kegiatan ini dapat menekuni pelatihan tersebut. Sebab, bukan tak mungkin akan bisa menjadi ladang bisnis untuk meningkatkan perekonomian keluarga.
“Saya berharap setelah mengikuti pelatihan harus bisa mengembangkan, jangan hanya ikut pelatihan saja tapi tidak dikembangkan dan stop sampai di sini, ini harus bisa berkesinambungan,” tutupnya. (*)
Reporter : Darmawan
Editor : Yogi Wibawa







