benuanta.co.id, TARAKAN – Menjelang bulan Ramadan 1443 H/2022 M sudah seyogyanya melakukan pemantauan terhadap hilal untuk mengetahui tanggal jatuhnya bulan ramadan.
Kementerian Agama bersama Pemerintah Kota Tarakan dan unsur lainnya melakukan rapat untuk melakukan pelaksanaan Rukyatul Hilal yakni pada Jumat, 1 April 2022 mendatang.
Kepala Kementerian Agama Tarakan, Hj. Shaberah mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya sudah difasilitasi untuk dapat memantau pergerakan hilal sebelum Ramadan tiba.
“Sebelumnya kan kita keterbatasan alat dan juga situasi cuaca, Alhamdulillah tahun ini sedikit demi sedikit sudah dilengkapi pusat, biar nanti dilihat itu pas jika diarahkan ke titik hilal namanya Teodolit,” ungkapnya saat ditemui pewarta, Selasa (15/3/2022).
Shaberah juga mengatakan pihaknya pernah mencoba untuk melihat hilal dari satelit radar, namun tidak terlihat. Di Indonesia ini, hilal hanya dapat terlihat di daerah Pantai Anyar serta kawasan yang memiliki lautan lepas.
“Ya, rencananya memang titiknya di sini (Tarakan) hanya Taman Berlabuh, kita akan memantau dari sana nanti,” katanya.
Adapun berdasarkan instruksi Kemenag RI, pada 1 April 2022 sore pihaknya akan melakukan rukyatul hilal bersama tim yang terdiri dari Pemkot dan instansi terkait.
“Jadi, kalau tanggal 1 rukyatul hilal, misalnya ada yang lihat bulan, maka kita bareng puasanya dengan Muhammadiyah yang sudah menentukan waktu puasa,” tukas dia.
Terpisah, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kota Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi, menuturkan bahwa sebagai tim teknis yang mendukung pelaksanaan rukyatul hilal, pihaknya hanya mengikuti jadwal yang dilakukan Kementerian Agama.
“Insha Allah Kemenag akan melaksanakan tanggal 1 April, jadi nanti kami akan ada di sana,” ucapnya.
Dengan adanya alat baru oleh Kemenag untuk meneropong tinggi hilal sehingga pihaknya akan menjadi tim teknis untuk mendukung pelaksanaan rukyatul hilal yang akan dilaksanakan di taman berlabuh.
Menyoal ketinggian hilal, dikatakan Khilmi mencapai 1,5 derajat pada 1 April 2022 mendatang. Pada waktu tersebut BMKG tetap mengeluarkan prediksi cuaca.
“Yang perlu saya sampaikan Maret sampai April itu masuk periode pancaroba, jadi banyak kemungkinan cuaca ekstrem terjadi seperti hujan intensitas tinggi dan gelombang. Jadi ada potensi. Dengan memasuki musim pancaroba ini berpotensi meningkatkan awan hujan di Kaltara,” pungkasnya. (*)
Reporter: Endah Agustina
Editor: Ramli







