benuanta.co.id, TARAKAN – Menginjak usia 3 tahun, Rumah Sakit Umum Kota Tarakan (RSUKT) masih kekurangan dokter spesialis untuk menunjang pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Direktur RSUKT, dr. Joko menjelaskan pihaknya juga telah memikirkan strategi dalam mendapatkan SDM dokter spesialis.
“Bisa menempuh dua cara, mengirim dokter umum untuk menambah pendidikan dokter spesialis di daerah Jawa maupun Sulawesi serta membuka rekruitmen dokter spesialis yang baru selesai menempuh pendidikan spesialis,” ujarnya saat ditemui benuanta.co.id Sabtu (12/3/2022).
“Biasanya kami janjikan gaji, insentif, rumah dinas dan mobil operasional. Makanya kami serabutan untuk menambah perkembangan dokter spesialis,” tambahnya.
Menurut Joko, hal-hal yang akan menarik dokter spesialis dalam melakukan pelayanan kesehatan di rumah sakit yakni kenyamanan dalam bekerja, pengembangan karir dan salary.
Setiap tahunnya, RSUKT melakukan rekrutmen dokter dan tenaga medis lainnya seperti perawat dan sebagainya. Hal ini dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kebutuhan.
“Sekarang kami ada 14 dokter spesialis dan 13 dokter umum yang melayani masyarakat, yang pendidikan itu ada 7 di luar kota. Mudah-mudahan 3 atau 4 tahun sudah bisa pulang dan bisa pelayanan, karena ada yang mengambil obgyn, anastesi dan kulit. Jadi masih ada yang belajar di luar,” bebernya
Sementara itu Wali Kota Tarakan, dr. Khairul, M.Kes menuturkan awalnya RSUKT hanya memiliki SDM dokter spesialis penyakit dalam dan kebidanan. Kemudian berkembang spesialis bedah dan anak, hingga saat ini memiliki tambahan dokter spesialis jantung dan saraf.
“Nanti ada rehabilitasi medik. Insha Allah semakin tahun, semakin banyak dokter spesialisnya,” kata Khairul.
Khairul menyebut, ketersediaan dokter spesialis sangat bergantung pada insentif. Sehingga jika mendapat tawaran dengan jumlah insentif baik, maka para dokter spesialis akan bersedia memberi jasa di sebuah rumah sakit.
Hal ini juga yang ditawarkan managemen RSUKT kepada dokter spesialis agar mau bekerja di rumah sakit.
“Walaupun bukan uang jadi yang utama, tapi ditempat lain menawarkan yang lebih baik, maka kita harus bersaing untuk memberikan yang terbaik bagi dokter agar betah disini,” pungkasnya. (*)
Reporter : Endah Agustina
Editor : Yogi Wibawa







