benuanta.co.id, NUNUKAN – Sampah plastik memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan baik, seperti para pengurus Bank Sampah yang ada di Nunukan. Mereka mengubah sampah yang tak bernilai menjadi kumulasi ekonomi sejak dibuang warga.
Sub koordinator Penanganan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Nunukan, Edy Tambing mengatakan, dalam rangka penanganan sampah plastik pihaknya mendorong adanya bank sampah untuk menjembatani antara sampah plastik yang ada di masyarakat di tampung bank sampah sehingga memiliki nilai ekonomi.
Di Nunukan ada dua Bank Sampah Induk Kecamatan Nunukan dan juga di Kecamatan Nunukan Selatan, Kelurahan Tanjung Harapan.
“Dengan adanya bank sampah agar sampah botol dan plastik tidak dibuang begitu saja dapat merusak lingkungan, namun akan diolah sehingga memiliki nilai ekonomi,” ujar Edy Tambing, Ahad (28/2/2022).
Dengan harapan agar masyarakat yang berada di pesisir tidak membuang sampah plastik di sungai maupun di laut, dan mulai memilah sampahnya dari rumah, sehingga sampah yang memiliki nilai ekonomi itu tidak langsung dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) namun akan didaur ulang.
Terpisah, Petugas pengolahan sampah plastik DLH Nunukan, Bambang menjelaskan untuk mendapatkan sampah plastik, pihaknya mengambil dari masyarakat kemudian dilakukan pemilahan setelah itu dilakukan pemisahan. Mana yang akan dipres, mana yang akan digiling atau dicacah. Sedangkan kebanyakan botol bekas dari air mineral yang dipres, sementara botol bekas dari perbengkelan digiling.
Lebih lanjut Bambang menyampaikan ada dua macam untuk memproduksi sampah botol plastik, hal ini juga sesuai permintaan untuk mendaur ulang kembali sampah-sampah plastik. Meski demikian saat ini sampah yang sudah diolah dijual kepada pengepul, tidak langsung dikirim ke kota Surabaya.
“Kita lakukan penimbangan sekitar 80 kilo atau 90 kilo, sedangkan harga pres itu Rp. 2.500 biasanya. Kisaran Rp. 2.000 kalikan dengan harga pres. Kalau sampah yang dicincang harganya lebih tinggi sekitar Rp. 3.000,” jelasnya.
Selain botol plastik, ada juga kotak bekas dan kantong plastik didaur ulang dengan cara pengepresan. “Dikirim ke kota Surabaya di daur ulang menjadi berbagai macam tali,” terangnya. (*)
Reporter: Darmawan
Editor : Nicky Saputra







