benuanta.co.id, TARAKAN – Prediksi gelombang ketiga Covid 19 nampaknya bukanlah sebuah ramalan belaka. Hal ini didukung dari melonjaknya kasus aktif di Tarakan per 27 Februari 2022 terhitung sebanyak 228 kasus aktif.
Begitupun yang terjadi di RSUD dr. H. Jusuf SK, yang sempat dikabarkan tutup karena banyak nakes (tenaga medis) yang terpapar.
“Pembatasan poli klinik tidak ada kecuali rekam medis mungkin besok sudah buka lagi, kemarin sempat ditutup karena 7 orang kena di poli juga,” ujar Plt Direktur Utama RSUD dr. H. Jusuf SK, Franky Sientoro saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Senin (28/2/2022).
Sementara untuk pembatasan lain juga terjadi di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Hal ini dilakukan karena selain banyak nakes yang terpapar juga guna memberitahukan ke masyarakat agar untuk gejala penyakit batuk pilek tidak mendatangi IGD.
“Kalau pasien gejala batuk pilek bisa di Poli Klinik saja lah atau rujukan, namanya saja instalasi gawat darurat. Kalau ringan itu kita tidak mau layani, supaya jangan sampai nanti ketularan tenaga saya, habis, lalu kasus covid meningkat,” tegas Franky.
Menurut Franky, pasien yang benar-benar dalam kondisi gawat darurat saja yang seharusnya dapat dilayani di IGD.
“Emergency tapi tidak darurat bisa saja, misalnya di rumah sakit lain tidak ada contoh bedah tulang bedah syaraf, kalau di rumah sakit lain ada bisa aja di rumah sakit lain,” ujarnya.
“Hanya saja kalau masyarakat itu karena mau gampang batuk pilek biasa datang IGD, akhirny kami kebanyakan melayani yang itu, padahal kan IgD bukan melayani yang seperti itu, kalau tidak kita yang kelabakan, lalu banyak yang terpapar,” sambung Franky.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kaltara tersebut juga mengungkapkan bahwa saat ini sebanyak 38 pasien Covid dirawat diruang Tulip. Namun, dengan intensitas gejala yang tidak berat.
“Kalau nakesnya sampai sekarang ada yang terpapar dan isoman semua sebanyak kurang lebih 100an,” katanya.
Sementara untuk pelayanan operasi sendiri, pihaknya tidak melakukan penutupan atau pembatasan. Namun prosedural dalam pelayanan operasi maupun rawat inap, pasien harus wajib di tes Covid.
“Operasi semua jalan seperti biasa, semua yang mau opname harus antigen dulu, kalau positif kita rawat di Tulip dulu besoknya baru PCR untuk menentukan statusnya, kalau positif tetap di rawat di Tulip, kalau negatif dua kali langsung pindah di rumah sakit di bawah,” tuturnya.
Kendati begitu, ia berharap bahwa masyarakat dapat terus menjaga diri dan tidak menganggap gelombang ketiga ini permasalahan yang sepele.
“Mari kerjasama dengan baik, supaya kita bisa kendalikan lah, karena prediksi di Maret meningkat, menurun di April. Jadi kita harus hati-hati,” tutupnya. (*)
Reporter: Endah Agustina
Editor: Ramli







