benuanta.co.id, TARAKAN – Para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) mengalami keterbatasan pendapatan sejak Corona Virus Desease 19 (Covid 19) memasuki tanah air. Ayu Purnama, perempuan berusia 33 tahun ini harus dituntut kreatif dalam memasarkan produk yang ia kembangkan di tengah pandemi.
Ayu nama panggilannya, bersedia berbagi cerita pengalamannya bangkit dari keterpurukan ekonomi akibat pandemi Covid 19. Sekitar dua tahun lalu, Ayu yang sebelumnya memiliki usaha pusat oleh-oleh harus berganti menjadi usaha aneka frozen food (makanan beku).
“Waktu awal-awal (pandemi) parah banget, semua orang ketakutanya parah sampai tidak mau keluar rumah. Itulah yang membuat saya putar otak harus kreatif, karena pola masyarakat sekarang seperti apa gitu,” tuturnya saat ditemui Benuanta, Sabtu (26/2/2022).
Sebelumnya, Ayu berjualan produk untuk oleh-oleh khas Kalimantan Utara (Kaltara), seperti kopi lokal dari Malinau, Wedang Jahe dan Teh Bawang Dayak.
“Cuma di masa pandemi orang tidak ada yang berangkat, jadi gak mungkin beli oleh-oleh,” tukasnya.
Berangkat dari pemikiran tersebut, muncul ide Ayu jiks harus memiliki usaha yang memudahkan masyarakat. Tidak secepat kilat, ia pun harus merintis dari awal yang saat itu produk frozen food pertamanya ialah empek-empek.
Dijelaskan Ayu, pempek yang ia buat ini merupakan hasil olahan rumahan alias home made yang terbuat dari daging ikan dan udang. Sehingga cita rasa makanan masih sangat khas seperti daerah asal yang ia pilih yaitu Bandung.
“Semenjak pandemi lebih ditingkatkan lagi itu produksinya dan di masa pandemi orang malas ke luar untuk berbelanja di pasar atau mencari lauk,” ujar Ayu.
Selama Pandemi pun, ia memasarkan produknya melalui market place atau via online. Untungnya, ia sudah memiliki pelanggan tetap, yang meskipun ia mengganti produk usahanya, ia tidak perlu lagi memikirkan bagaimana cara memasarkan ulang.
“Respon pelanggan alhamdulillah ya lumayan, karena sudah terbiasa jualan online jadi pelanggan lama kemudian mereka tahu juga produk saya dan rata-rata mereka repeat order,” terang Ayu.
Saat ini, Ayu sudah mengembangkan produk makanan bekunya tersebut hingga delapan menu. Dari delapan menu tersebut juga tersedia varian-varian rasa lain. Satu hal yang membedakan produk makanan beku Ayu dengan makanan beku lain ialah produk miliknya telah tercampur dengan racikan rahasia dari tangannya. Sehingga, pelanggan tidak perlu lagi mengolah untuk membumbui sebelum menyajikannya.
“Yang beda ada bandeng tanpa duri, mungkin banyak sudah yang menjual ini, tapi bandeng yang saya pasarkan sudah termasuk ada bumbunya, ini juga terinovasi dari Pandemi yang semua orang maunya praktis, tinggal goreng,” paparnya.
Adapun aneka menu frozen food yang ia jual, di antaranya :
- Ayam Lalap Hap-hap
- Otak-otak Bandeng
- Udang Karage/Tempura
- Cassava Cheese Stik
- Pempek Bandeng/Udang
- Sambal Lauk Paru
- Tape Ketan Sistape
- Bandeng Tanpa Duri yang tersedia varian : bumbu madu, bumbu pedas manis, bumbu Padang, bumbu kuning, bumbu rica-rica, bumbu klasik, bumbu kecap dan bumbu krispy.
Ayu melanjutkan, untuk store tempat ia berjualan berada di Sebengkok Waru RT. 21, tepat di belakang SDN 030. Aneka frozen food Ayu juga memiliki reseller yang tersebar di wilayah Kaltara, di antaranya di Tanjung Selor, Kabupaten Tana Tidung (KTT) dan Malinau.
Sedangkan rate harga untuk masing-masing produk, diakui Ayu masih ramah di kantong Ibu Rumah Tangga yakni bermula dari Rp 20 ribu hingga Rp 45 ribu salam satuan kilogram.
“Semoga Pandemi cepat berlalu kita jadi bebas berjualan kemudian beraktifitas, kalau UKM semoga tidak dipersulit saja sih kalau jualan jangan kayak ada jam-jamnya, apalagi kalau online kan bisa saja gak pakai jam karena kebanyakan itu pakai kurir,” harap Ayu. (*)
Reporter: Endah Agustina
Editor: Matthew Gregori Nusa







