benuanta.co.id, TARAKAN – Dinas Kesehatan Kota Tarakan membenarkan adanya sekolah yang terpaksa lockdown karena ditemukannya kasus positif Covid 19 pada salah satu warga sekolah.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tarakan, dr. Witoyo melalui Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Tarakan, Bahriyah Tul Ulum, S.Si., menerangkan untuk SDN Utama I, awalnya pihaknya mendapati laporan setelah adanya hasil swab salah satu anak dari fasilitas layanan kesehatan.
Setelahnya, pihaknya langsung melakukan penelusuran dan didapati bahwa anak tersebut bersekolah di SDN Utama I.
“Akhirnya kami petugas tracing dari tim puskesmas terdekat melakukan tracing kontak untuk sekolah, kita dapatilah kontak erat dari kontak erat tadi penambahan nya ada 8 kasus positif,” terangnya saat dihubungi Benuanta melalui sambungan telepon, Sabtu (19/2/2022).
Dijelaskannya, SDN Utama I memiliki jumlah kasus konfirmasi Covid sebanyak 9 orang dengan positivity rate 64 persen.
Sebelumnya, terdapat pula sekolah lain yakni SMA Negeri 1 Tarakan dan SMK Negeri 2 Tarakan yang terpaksa harus dilockdown karena kasus yang sama.
Berdasarkan data yang dihimpun, SMAN 1 Tarakan memiliki jumlah kasus konfirmasi Covid sebanyak 7 orang dengan positivity rate 18,9 persen, dan SMK Negeri 2 Tarakan memiliki jumlah kasus konfirmaai Covid sebnayak 7 orang dengan positivity rate 24 persen.
“Kita mengacu ke SKB 4 Menteri ya bahwa jika dari total sampel atau tracing menunjukkan hasil positif lebih dari 5 persen maka sekolah harus diliburkan selama dua Minggu,” jelasnya.
Ketiga sekolah tersebut saat ini tengah diliburkan dan menjalani pembelajaran daring. Terkait dengan kasus Covid 19, setiap harinya Dinas Kesehatan melakukan surveilance terhadap sekolah dalam mengantisipasi lonjakan ya kasus Covid.
“Kita tetap sesuai arahan SKB 4 Menteri, surveilance dengan cara mengambil sampel sebamyak 10 persen dari total penduduk sekolah, dalam hal ini tenaga pendidik dan kependidikan plus siswa, ini setiap harinya,” tutur perempuan yang akrab disapa Uul itu.
“Nah, ketika dia menjadi kasus konfirmasi positif kita tindaklanjuti itu gejala ringan atau Orang Tanpa Gejala (OTG) bisa isolasi di rumah. Kalau gejala sakit kita berikan pengobatan yang dilakukan teman-teman puskesmas sesuai wilayah kerja, pengobatannya ada Antivirus, Vitamin C dan D,” sambungnya.
Uul melanjutkan untuk alat Reagen sendiri, pihaknya memastikan dalam kondisi yang cukup untuk melakukan tracing dan surveilance setiap harinya.
Disinggung soal varian covid yang saat ini tengah merebak di beberapa sekolah, pihaknya menyatakan bahwa untuk mengetahui varian tersebut haruslah melakukan pengecekan lebih lanjut. Namun, jika melihat kriteria penularannya saat ini disebut dengan probable omicorn.
“Kalau kita lihat penularannya yang cepat ya kita jadi probable omicorn, atau mungkin saja, tapi untuk fixnya kita belum bisa pastikan karena hasilnya belum diketahui,” tutup Uul. (*)
Reporter: Endah Agustina
Editor: Ramli







