benuanta.co.id, TANA TIDUNG – Memasuki hari keempat proses pencarian Luter, warga Desa Bebakung yang diduga menjadi korban sambaran buaya di kanal Sungai Supa, Kecamatan Sesayap Hilir, Kabupaten Tana Tidung (KTT) masih terus dilakukan pencarian Tim SAR gabungan bersama warga setempat.
Kepala Desa (Kades) Bebatu, Mahmuda mengatakan meski hingga saat ini belum membuahkan hasil, proses pencarian masih terus dilakukan.
“Proses pencarian akan terus kita lakukan. Karena kita ingin korban bisa kita temukan dalam keadaan bernyawa ataupun tidak, karena korban tetap harus pulang demi keluarganya,” kata Mahmuda, Sabtu (19/2/2022).
Beragam simpati masyarakat yang turut membantu proses pencarian juga diapresiasi keluarga korban. Diungkapkan Ihang, salah satu keluarga Luter, berterimakasih kepada warga yang terus melakukan pencarian ini.
Ihang mengaku pihak keluarga sangat tertolong atas rasa persaudaraan sesama warga KTT yang telah membantu dalam melakukan proses pencarian.
“Kita sangat berterima kasih sebesar-besarnya kepada warga yang membantu proses pencarian. Bahkan 80 persen sumber daya pencarian, semuanya disiapkan oleh warga sekitar dan tentunya kita sangat bersyukur dengan bantuan ini,” ungkap Ihang.
Meski demikian, Ihang juga tidak bisa menyembunyikan rasa kekecewaannya terhadap instansi-instansi terkait yang belum maksimal dalam membantu proses pencarian ini. Seperti pihak penangungjawab proses pencarian tidak memberikan peralatan memadai dalam proses pencarian Luter.
“BPBD tidak memberikan peralatan yang lengkap selayaknya proses pencarian. Bahkan beberapa peralatan seperti perahu dan mesin genset itu disiapkan oleh kita pihak keluarga bersama para warga, makanya kita kecewa,” terangnya.
Menurut Ihang, seharusnya tim pencarian dari instansi terkait bisa memberikan perlengkapan khusus yang tidak dimiliki oleh pihak keluarga dan warga untuk lebih memudahkan proses pencarian.
“Namanya kita minta tolong kepada instansi terkait kan, karena kita merasa mereka memiliki sumber daya yang lebih dari yang kita miliki. Tetapi, hal itu tidak sesuai dengan yang kita harapkan, karena hampir semua peralatan itu disiapkan oleh kita bersama warga,” tandasnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tana Tidung, RA Darwis menyampaikan pihaknya juga ikut berpartisipasi dalam misi kemanusiaan ini, namun bukan sebagai koordinator lapangan.
“Kami bukan sebagai koordinator, BPBD ikut melakukan pencarian sesuai dengan arahan dan fasilitas yang kami miliki. Jadi perlu diketahui, yang selama ini seolah-olah BPBD menjadi koodinator dalam pencarian, bukan seperti itu karena kita melakukan sebagai misi kemanusiaan. Kami saat ini juga menunggu, siapa yang menjadi koordinator dalam proses pencarian ini,” tegas Darwis.
Sedangkan untuk peralatan dalam proses pencarian korban, Darwis mengaku pihaknya saat ini memang masih kekurangan.
“Memang alat kita belum lengkap. Tapi kita tidak berhenti menyerah untuk mencari korban,” imbuhnya.
Darwis menambahkan, saat ini pihak BPBD sangat kekurangan alat yang berhubungan dengan safety, lantaran selama proses pencarian ini prosesnya belum berjalan sesuai dengan standar safety yang tepat.
“Wilayah yang dianggap kekuasaan binatang buas, tetapi tidak safety. Banyak warga yang ada di sana, duduk-duduk dipinggir kanal dan lainya. Bisa saja ada buaya yang mengendap-ngendap dan menerkam, bisa saja ada binatang lain yang menerkam,” terangnya.
“Makanya kita berharap dari pengertian masyarakat agar tidak berdekatan dengan TKP, selain untuk membantu proses pencarian,” tutupnya. (*)
Reporter : Osarade
Editor : Yogi Wibawa







