benuanta.co.id, TARAKAN – RSUD dr. H. Jusuf SK Kota Tarakan berencana melakukan pengadaan alat pendeteksi Covid-19 varian Omnicron. Sebab, hingga kini alat tersebut belum tersedia untuk mengetahui masyarakat terpapar Corona varian Omnicron yang diketahui lebih cepat menyebar.
Plt. Direktur RSUD dr. H. Jusuf SK, dr. Franky Sientoro menyebut alat S Gen Target Failure (SGTF) sangat diperlukan di rumah sakit yang dipimpinnya. Hal itu juga sedang dalam pertimbangannya.
“Kami sedang coba mengajukan, apakah kalau alatnya tidak mahal kami beli. Tetapi kalau alatnya mahal kami minta bantuan dari Kemenkes,” ujar dr. Franky kepada benuanta.co.id, Sabtu (5/2/2022).
Franky menguraikan pemeriksaan menggunakan SGTF mampu mengarah apakah sampel itu merupakan varian Omicron atau varian baru lainnya. Memang harus menggunakan WGS Whole Genom Sekuencing (WGS) untuk lebih pastinya, tetapi alat tersebut hanya tersedia di laboratorium besar.
“Kita lihat dulu kemampuan biaya, semoga dalam 2 minggu ke depan kita bisa usahakan. Untuk harga keseluruhan channel SGTF sekitar Rp 120 juta yang terdiri dari channel Rp 87 juta, kalibrasi alat Rp 17 juta dan sisanya biaya teknisi,” urainya.
Sejalan dengan langkah antisipasi tersebut, hingga kini terdapat 2 orang pasien Covid-19 yang sedang dirawat di ruang Tulip RSUD.
Pihaknya belum dapat mendeteksi apakah kedua pasien itu terinfeksi varian Omnicorn atau tidak. Gejala kedua pasien tersebut seperti biasa yakni batuk pilek yang tergolong tidak terlalu berat. Hasil pemeriksaan PCR keduanya positif Covid-19.
“Kita harus antisipasi, protokol kesehatan terus ditingkatkan karena di Jakarta dan kota-kota besar lainnya sudah mulai terjadi lonjakan penularan Covid-19. Bagi yang belum vaksinasi booster, harap segera dan bagi yang belum vaksin sama sekali harap ke RSUD, kami terus menyediakan,” tandasnya. (*)
Reporter : Kristianto Triwibowo
Editor : Yogi Wibawa







