oleh

Tekan Angka Kemiskinan, Ekonom Sebut UMKM dan Investasi Kaltara Mempengaruhi 

benuanta.co.id, TARAKAN – Merespon turunnya jumlah penduduk miskin yang berkurang sebanyak 3,4 ribu jiwa atau menurun 0,53 persen poin pada September 2021, akademisi ekonomi STIE Bulungan Tarakan menilai harus direspon dengan beberapa langkah.

Dr. Ana Sriekaningsih, S.E. M.M menyatakan bahwa diperlukan intensitas program jaring pengaman sosial atau bantuan sosial, harus gencar disalurkan oleh pemerintah kepada masyarakat yang tergolong kurang mampu secara ekonomi.

Hal tersebut dijelaskan Ana, merupakan bagian dari geliat pemulihan ekonomi yang dapat mengentaskan kemiskinan.

Faktor lainnya yang dapat menurunkan angka kemiskinan yaitu investasi yang masuk di daerah. “Harapannya secara pasti memberikan lapangan kerja kepada masyarakat daerah. Jadi masyarakat yang belum bekerja dapat diperdayakan. Sembari penguatan sumberdaya manusia di Kaltara terus dimaksimalkan,” tambah Ana.

Baca Juga :  Meninggal Mendadak di Tempat Kerja, Ahli Waris dari Nelayan Ini Dapat Santunan Kematian dari BPJS Ketenagakerjaan

Ana pun mencontohkan Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI), yang menurutnya perlu dipastikan menyerap tenaga kerja lokal secara dominan. “Jangan nanti tenaga dari luar yang dilibatkan,” ucapnya.

Selain itu, bantuan permodalan untuk usaha mikro UMKM itu juga sangat diperlukan, pasalnya langsung menyentuh perekonomian masyarakat.

“Perputaran ekonomi pada UMKM itu panjang karena berdampak pada pemilik usaha, pemasok bahan baku dan juga pekerja akhirnya ada rantai perputaran ekonomi secara berkelanjutan,” jelas dia.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara menyampaikan bahwa jumlah penduduk miskin di Kaltara pada September 2021 sebanyak 49,49 ribu (6,83 persen). Pada Maret 2021 penduduk miskin berjumlah 52,86 ribu (7,36 persen).

Baca Juga :  Atensi IKN dan Perbatasan, Puspotdirgaau dan Lanud Anang Busra Tingkatkan Pertahanan Udara

“Jumlah penduduk miskin berkurang 3,4 ribu jiwa atau menurun 0,53 persen poin,” ungkap Kepala BPS Provinsi Kaltara, Tina Wahyufitri pada Senin,17 Januari 2022.

Selain itu, diterangkan Tina Wahyufitri selama bulan Maret–September 2021, garis kemiskinan (GK) naik sebesar 2,72 persen, yaitu dari Rp. 710.994,- perkapita perbulan pada Maret 2021 menjadi Rp. 730.342,- per kapita per bulan pada September 2021.

Kemudian, pada periode Maret–September 2021, BPS menyampaikan Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) mengalami kenaikan, dari 0,872 pada keadaan Maret 2021 menjadi 0,893 pada keadaaan September 2021.

Baca Juga :  Mortir Daya Ledak Radius 5000 Meter Ditemukan di Juata Kerikil

“Tetapi Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) mengalami penurunan dari 0,177 menjadi 0,173,” tambahnya.

BPS Kaltara juga merilis, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk pada September 2021 yang diukur dengan Gini Ratio tercatat sebesar 0,285. Pihaknya memastikan angka tersebut tergolong menurun jika dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2021.

BPS Kaltara juga mengumumkan pada September 2021, distribusi pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah adalah sebesar 23,01 persen.

“Artinya pengeluaran penduduk masih berada pada kategori tingkat ketimpangan rendah,” tutupnya. (*)

Reporter: Kristianto Triwibowo

Editor: Matthew Gregori Nusa

Klik Link Video di Bawah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

3 × five =