oleh

Cabai dan Pusaran Inflasi

Oleh: Endang Purnaningsih

Statistisi BPS Kota Tarakan

GEJOLAK harga cabai seringkali berdampak pada tingginya kontribusi cabai terhadap inflasi komoditas volatile food di Indonesia. Dikutip dari laman Bank Indonesia, inflasi volatile food adalah inflasi yang dipengaruhi oleh kejutan dalam sekelompok komoditas bahan pangan. Beberapa hal yang dapat menyebabkan gejolak harga secara tiba-tiba antara lain gangguan alam, musim panen, dan faktor perkembangan harga pangan domestik dan internasional.

Berdasarkan pantauan pergerakan inflasi di Kota Tarakan sepanjang Januari hingga November 2021, komoditas cabai rawit sudah tercatat muncul sebanyak lima kali dalam kelompok lima besar komoditas penyumbang andil inflasi paling dominan. Pada bulan Januari 2021 cabai rawit bertengger di urutan pertama andil inflasi paling dominan sebesar 0,13 persen, di bulan Februari menempati peringkat kedua andil inflasi sebesar 0,05 persen, dan pada bulan Maret kembali muncul sebagai peringkat pertama andil inflasi sebesar 0,15 persen, sementara di bulan April bertahan di peringkat kelima dengan andil inflasi sebesar 0,06 persen. Selang dua bulan kemudian, yakni pada bulan Juli cabai rawit eksis lagi di urutan kedua andil inflasi paling dominan sebesar 0,06 persen. Lalu bagaimanakah nasib cabai di bulan Desember?

Baca Juga :  Tarakan Menuju Kota Layak Anak, Ini Seriusan Apa Cuma Lucu-lucuan?

Memasuki masa akhir panen dan musim hujan/cuaca ekstrem ditambah dengan jelang Natal dan Tahun Baru harga cabai menjadi hits. Stok sedikit sementara permintan meningkat, hargapun melonjak. Dari data hasil Survei Harga Konsumen menunjukkan bahwa harga cabai merah besar segar di pasar tradisional Kota Tarakan melanjutkan tren kenaikan yang cukup signifikan sejak awal Desember, dari harga rata-rata Rp51.000/kg pada pekan pertama Desember 2021 menjadi Rp70.833 pada pekan keempat Desember 2021 dengan harga tertinggi mencapai angka Rp100.000/kg. Kenaikan harga yang drastis juga terjadi pada cabai rawit tiung yang bergerak naik dari harga rata-rata Rp 55.650/kg pada pekan pertama Desember 2021 menjadi Rp130.000/kg pada pekan keempat Desember 2021 dengan harga tertinggi tercatat di angka Rp150.000/kg.

Faktor lain yang memicu tingginya lonjakan harga cabai di Tarakan adalah masih besarnya Margin Perdagangan dan Pengangkutan (MPP) komoditas cabai. Mengacu pada hasil Survei Pola Distribusi Perdagangan Cabai Merah Tahun 2020, Badan Pusat Statistik mencatat MPP komoditas cabai merah tahun 2019 untuk Provinsi Kalimantan Utara sebesar 63,11 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa kenaikan harga cabai merah dari tingkat petani sampai dengan konsumen akhir di wilayah Propinsi Kalimantan Utara adalah sebesar 63,11 persen.

Baca Juga :  Tarakan Menuju Kota Layak Anak, Ini Seriusan Apa Cuma Lucu-lucuan?

Pangan sebagai salah satu unsur kebutuhan pokok manusia merupakan kebutuhan dasar yang perlu mendapatkan perhatian khusus baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Karena jika tidak, gejolak harga pangan yang tiba-tiba dan ekstrem akan menjadi ancaman bagi ketahanan pangan masyarakat. Dan cabai merupakan salah satu diantaranya. Kontribusi cabai terhadap inflasi menunjukkan bahwa pemerintah perlu melakukan intervensi agar tercipta stabilitas harga cabai.

Upaya yang perlu dilakukan pemangku kebijakan tidak hanya pada tahap awal, tetapi akan bernilai secara komprehensif  jika dilakukan mulai dari hulu hingga hilir. Perlu adanya koordinasi secara konsisten dengan para petani champion dalam mengawal manajemen tanam, mendorong petani agar menambah luas tanam dengan stimulus harga yang stabil, mengendalikan organisme pengganggu tanaman untuk meningkatkan produksi serta optimalisasi pengelolaan pascapanen.

Di Indonesia, kehilangan hasil (loses) hortikultura cukup tinggi berkisar 25-40 persen. Karena sifat yang mudah rusak inilah maka diperlukan pengelolaan dan teknologi pascapanen yang tepat untuk meminimalisir kerusakan buah cabai segar dan mempertahankan umur simpannya sehingga meningkatkan nilai jual produk tersebut. Mendorong penerapan teknologi proses penyimpanan berbiaya opersional rendah di tingkat petani dan pemanfaatan mesin penyimpan CAS midi system yang telah dikembangkan oleh BB Pascapanen Balitbangtan yang ditengarai mampu menyimpan cabai sehingga dapat bertahan selama 30 hari dengan tingkat kerusakan dibawah 10 persen. Diharapkan dengan upaya ini bisa memenuhi kebutuhan penyimpanan di tingkat sentra produksi saat harga jatuh dan dapat menjadi penyangga stok saat pasokan cabai bergejolak. Masyarakat juga dapat turut serta berpartisipasi melalui Gerakan Tanam Cabai  dalam Pemanfaatan Pekarangan untuk Ketahanan Pangan Keluarga Indonesia.

Baca Juga :  Tarakan Menuju Kota Layak Anak, Ini Seriusan Apa Cuma Lucu-lucuan?

Penduduk kita terus bertumbuh, industri pangan juga harus berkembang. Jadi, mari kita fokus dan dukung terus upaya memajukan ketahanan pangan di Indonesia dengan energi positif dan menjaganya bersama-sama. Memang bukan hal yang mudah mengurai kompleksitas ini, tapi harus kita upayakan demi kesejahteraan di Bumi Paguntaka. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *